Tuhan Angkat dan Selalu Ingat Kamu

Tuhan Angkat dan Selalu Ingat Kamu

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yag mengutusnya…” (Yoh 13:16).

Aku sebatang tusuk gigi. Saat aku melihat sekitarku, aku malu. Aku melihat sang sendok dan garpu. Bentuk mereka begitu elok, warnanya perak berkilau, bahannya logam kuat dengan bunyi berdenting indah saat bersentuhan.

Sedangkan aku? Hanya sebatang garis lurus terbuat dari kayu kasar yang begitu mudah patah. Aku semakin tertunduk malu. Dari sudut mataku terlihat sang piring dengan ukirannya yang menawan hati. Warna berkilauan dihiasi emas di sekitarnya membuat semua mata tertuju padanya. Saat makanan diletakkan di atasnya, semua mata tak pernah lepas darinya.

Aku? Saat mereka menikmati makanan tak ada satupun yang menengok kepadaku. Ah, aku tak mempunyai keelokan apapun. Aku melirik sang gelas kaca yang indah dengan kaki yang ramping dan badan yang manis. Wajahnya berkilauan dan berkedip mengikuti gerakan sang lilin.

Sang lilin? Ah dia bersinar dengan mesra dan diletakkan di tempat logam berkilau yang terukir dengan hiasan indah.

Sedangkan aku? Aku tidak mempunyai kilau atau ukiran. Rupaku jelek dan warnaku tidak rata. Aku melihat sang taplak meja dengan jahitan halus yang sempurna. Begitu indah ia memamerkan kainnya yang halus dari sutra.

Aku melihat sang pisau yang siap siaga gagah perkasa dengan kilauan tajam yang membuat orang kagum akan kekuatannya. Aku hanya sebatang kayu lemah.

Aku melihat sang bunga yang menjadi hiasan di tengah meja memamerkan kecantikannya yang alami dengan warna yang menghentikan nafas bagi yang memandangnya. Aku tidak memiliki kecantikan yang sanggup dipamerkan sama sekali. Tidak! Semakin aku melihat sekitarku, semakin aku jadi tertunduk malu. Lama aku menunggu siksaan ini untuk berlalu. Tetapi aku tidak berani bersuara karena Sang Raja sedang menikmati makan malamNya.

Aku menunggu dan menunggu, terasa seribu tahun berlalu tanpa akhir. Tiba-tiba Sang Raja bertepuk tangan. Terkejut, aku mengangkat wajahku. Aku melihat para pelayan datang untuk membereskan semua yang ada di atas meja. Sang sendok, garpu, piring, gelas, bunga, semuanya diangkat untuk dibereskan. Apa yang terjadi? Mengapa Sang Raja membiarkan mereka untuk dibawa menjauh dari diriNya? Bukankah Sang Raja senang memandang keelokan mereka?

Raja beranjak dari kursiNya dan melangkah. Sembari berjalan dia mengambil diriku dan meletakkanku di dalam genggamanNya. Aku? Aku sebatang kayu lemah yang kasar, buruk rupa, dan tidak ada artinya ini? Aku boleh ada di genggaman Sang Raja? Semua kesedihanku hilang. Sambil menggoyang-goyangkan diriku di dalam genggamanNya Sang Raja berbisik, “Tanpa tusuk gigi ini, kepuasanKu tidak akan lengkap. Makanan seenak apapun yang Kunikmati akan mengganggu jikalau ada dari mereka yang tersangkut dalam mulutku.”

Tuhan Yesus terima kasih untuk mau meninggalkan segalanya yang Kau miliki untuk kami. Kau dihina, disalib, diperlakukan dengan tidak layak untuk bayar dosaku. Itu bukan pengorbanan yang murah. Namun Kau berikan semuanya dengan cuma-cuma. Kau dipecut, ditelanjangi, diludahi, ditendang, dijambak, ditampar, ditusuk, dicakar, dicekoki kotoran menjijikkan, diseret, dilempar, semua hanyalah untukku sehingga aku dapat kembali ke pelukan Bapa.

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13).

Aku sahabatMu Tuhan. Jadikan aku tusuk gigiMu Bapa sehingga aku dapat memuaskan hatiMu. Jadikan aku tusuk gigi bagi orang lain Tuhan. Walau paling kecil dan seakan-akan dilupakan orang, di situlah justru aku memperoleh segalaNya.

Aku ingin sepertiMu Yesus, merendahkan hati bagi semuanya sehingga kasih Bapa boleh nyata di dunia ini. Dan aku tahu saat seluruh dunia melupakan diriku, Engkau, Engkaulah Sang Raja yang selalu mengingat aku.

“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tanganKu” (Yes 49:15-16).

Obrollers: Tuhan selalu pandang segalanya dengan indah, bahkan yang paling  kecil sekalipun. Apa bakat dan talentamu yang selalu membawa berkat buat orang-orang di sekitarmu? Bagi di bagian comments ya…


Bro Chan – Life Coach
Image is licensed under Flickr’s Creative Commons

Tags:

About Bro Chan .

Chanuka Erdita (a.k.a. Bro Chan) adalah pendiri dan editor dari IgnitedHeart.com dan WarungSurgawi.com.


Subscribe

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

No comments yet.

Leave a Reply

Page 1 of 11