Ngefans Liverpool Ngefans Tuhan

ngefans liverpool ngefans tuhan

Tulisan ini oleh Indra S.

Untuk ke empat kalinya aku pergi ke situs olahraga untuk memeriksa skor dari Liverpool, kesebelasan favoritku yang masuk ke perempat final piala Champions melawan Chelsea. Dan akhirnya, aku pun memeroleh skor terakhir, yakni 0-0. Aku berulang kali ke situs ini karena tidak ada siaran langsung di tempatku, dan juga aku kurang yakin jam berapa mereka bertanding.

Aku telah menjadi fans kesebelasan Liverpool sejak kecil, terpengaruh oleh keluargaku yang semuanya adalah fans fanatik. Aku teringat sewaktu awal tahun 90an, anak muda di Asia lagi trend untuk mengenakan seragam tim sepak bola favorit mereka. Tak terbilang betapa bahagia dan bangganya hatiku saat aku akhirnya bisa membeli seragam Liverpool, tak peduli berapa mahalnya, dan seragam itu kusayang-sayang dan kusimpan sampai sekarang.

Aku jadi berpikir, untuk kesebelasan sepak bola yang sebenarnya asing bagiku, aku rela berkorban begitu banyak. Aku dulu rela bangun di tengah malam untuk menonton mereka, padahal mataku sudah pedas karena ngantuk. Aku rela menghabiskan uangku untuk membeli seragam mereka. Aku dengan bangga dan cengengesan menerima ejekan teman-temanku, karena waktu itu Liverpool sempat payah rekornya.

Bagaimanakah sikapku untuk Tuhan yang telah begitu baiknya bagiku? Dia yang seharusnya memperoleh rasa sayang dan kagum yang jauh lebih besar daripada kesebelasan favoritku ini. Dia yang telah mengorbankan hidupnya untukku. Dan Dia yang telah menjadikanku, seorang pendosa yang hina ini, menjadi teman dan saudaraNya.

Seringkali sikapku menunjukkan seolah aku lebih sayang pada kesebelasanku ini daripada Tuhan. Aku rela bolak-balik menghampiri situs olahraga untuk menunggu hasil pertandingan mereka. Andaikan aku bisa seantusias itu menunggu kabar baik dari Tuhan, membuka firmanNya. Aku dengan bangga mengakui bahwa aku adalah fans Liverpool dan rela menelan ledekan dari teman-temanku waktu itu. Andaikan aku bisa dengan sepenuhnya bangga untuk mengakui imanku dan rela menghadapi rintangan-rintangan karena pengakuan imanku itu.

Semuanya akan berlalu, kecuali Tuhan kita yang ada dari dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Kesebelasan Liverpool yang kucintai telah berganti dari sejak aku pertama kali menjadi fans mereka. Namun Tuhanku tak pernah berubah. Biarlah Engkau menjadi yang terutama di hati dan hidupku ya Tuhan, sehingga Engkau benar-benar menjadi Hartaku yang terutama.

Adrianus Indra Setiadi

Adrianus Indra Setiadi
Image is licensed under Flickr’s Creative Commons

Tags:

About Guest Author .

Tulisan ini ditulis oleh penulis tamu di Warung Surgawi. Detail mengenai mereka bisa dibaca di artikel di atas.


Subscribe

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

No comments yet.

Leave a Reply

Page 1 of 11