Tulisan berikut oleh Indra S.
Aku bangun tidur hari ini, dan seperti kebiasaanku setiap hari, hal pertama yang kulakukan adalah berterima kasih kepada Tuhan untuk istirahatku, menyalakan komputerku, dan sambil menunggu komputerku, aku menyeduh kopiku.
Saat aku mulai menghirup kopiku, terasa wangi dan nikmat yang luar biasa. Dan aku pun mulai berpikir, sudah lama aku tidak benar-benar menikmati kopi yang kuminum setiap pagi ini. Aku sering minum kopi karena kebutuhan, bukan untuk kenikmatan. Kalau tidak minum biasanya aku jadi sakit kepala.
Di saat aku merenung, aku menyadari bahwa sama seperti kopi ini, banyak hal-hal di dunia ini yang sebenarnya patut aku hargai dan aku nikmati yang telah menjadi biasa bagiku. Persahabatan, makanan yang cukup setiap hari, keluargaku, hampir segala berkat Tuhan di hidupku telah menjadi biasa bagiku.
Memang, berkat Tuhan begitu banyak sehingga mungkin lama-kelamaan aku menjadi terbiasa. Tetapi apakah menjadi terbiasa itu berarti aku kehilangan rasa terima kasih? Aku begitu terbiasanya menerima berkat Tuhan sampai seolah-olah berkat Tuhan itu adalah menjadi “hak” diriku. Padahal semua yang aku terima adalah semata berkat kasih Tuhan.
Hidup ini seharusnya begitu indah, kalau saja aku menyadari bahwa berkat Bapaku selalu berada di sekelilingku. Aku teringat akan cerita favoritku dari kitab suci, yakni cerita tentang anak yang hilang. Saat ini aku membandingkan diriku dengan anak yang mengabdi terus kepada bapanya sepanjang hidupnya, namun tidak menyadari bahwa berkat bapanya sebenarnya selalu berada di sekelilingnya. Sering kali aku tidak menyadari hal ini, seolah-olah Tuhanku adalah Tuhan yang jauh. Aku teringat lagi pada Fransiskus dari Asisi, yang bisa melihat kedahsyatan Tuhan dari alam semesta ciptaannya. Sungguh, jika saja aku mau belajar melihat hari-hariku dari kacamata Bapa, alangkah indahnya hidup ini. Aku pun akan merasa, bahwa hidup ini penuh berkat.
—
Adrianus Indra Setiadi
Image is licensed under Flickr’s Creative Commons












