Sering kita ingin lari dari masalah. Tapi seakan masalah itu ngikutin kemanapun kita pergi. Berarti hanya ada satu kesimpulan. Masalah itu adalah cara berpikir di dalam kita yang sedang tersesat. Kita berusaha lari tapi hal yang berusaha kita hindari ada di dalam kita. Jadi kemanapun kita pergi, yang kita hindaripun akan tetap bersama kita.
Dulu waktu kelas 3 SD, gue punya anjing kecil namanya Kenichi (Yoi, gue fans berat film robot Voltus, jadi pas punya anjingpun gue namain tokoh film kartun favorit).
Nah hobi si Kenichi yang selalu bikin gue ketawa adalah ngejar buntutnya ndiri. Dia muter-muter di tempat sampe pusing, terus teler, dan terbaring di lantai.
Saat kita mau lari dari masalah kita, itu seperti buntut yang mau lari dari si anjing. Gimana caranya? Hm, mungkin perlu belajar dari cicak kali…
Bertahun-tahun kemudian, gue sering ngeliat bahwa sebagai manusia, gue juga kok sama. Suka berusaha lari dari buntut sendiri, alias dari masalah. Ada orang yang secara duniawi begitu penuh dan secara material lebih dari cukup, makan enak kenyang, punya istri cantik, punya mobil bagus, punya rumah keren, tapi mukanya suntuk. Tapi ada orang lain, yang secara standard duniawi harusnya hidupnya menderita, tapi justru raut mukanya bersinar terang sukacita.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. – Mat 11:28-30
Berhentilah berlari, heninglah, beristirahatlah, Tuhan ada di hatimu. Dialah jawaban dari segalanya. Kalo Tuhan ada di sana, maka jawaban dan semua hal yang kita perlukan udah ada di dalam kita juga.
Amen!
—
Bro Chan – Life Coach
Image is licensed under Flickr’s Creative Commons











