May 31, 2008

Musim Semi


Bunga yang tumbuh di pojokan rumah kita, hallelujah!


Cyan mejeng di atas tangga depan pintu rumah.


Bunga ungu sebelah tangga kita, puji Tuhan!






Rosa lagi bercocok tanam, nanem lavender, chives, mint, parsley, dll

Obrollers, saat Tuhan menghiasi dunia sekitar kita dengan debu berkilau cipataanNya yang indah, biarlah kita boleh berhenti sejenak dari kesibukan kita dan mengucap syukur terima kasih atas pemeliharaanNya. St. Francis dari Asisi bilang bahwa alam adalah jejak kaki Allah. Musim semi di Oregon ngingetin gue akan hal ini, puji Tuhan! Salam hangat dari gue dan keluarga di Portland, damai Kristus beserta kita, ameeen!

Mujizat Cinta.

Bro Chan

Bookmark and Share Continue Reading......

May 14, 2008

Kuasa Cinta Tuhan


Oleh: Ivana

Bisa dibilang aku datang bukan dari keluarga yang bahagia. Aku dua bersaudara. Kakakku (Ivo) dari kecil sudah dirawat oleh omaku. Jadi aku hampir tidak pernah merasakan yang namanya cinta dari seorang kakak. Sedangkan oma emang lebih sayang ke kakakku dari sejak kecil sebab dia anak pertama laki-laki. Aku tinggal bersama orang tuaku. Mami sibuk mengurusi toko, sedangkan papi sibuk mengurusi kerjaannya sendiri. Tiap hari aku ketemu kedua orang tuaku, tapi itu hanya ketemu aja. Pagi hari sarapan bersama mami dan papi. Setelah itu aku pergi kesekolah. Kadang aku dianter sama papi, tapi kebanyakan aku pergi ke sekolah naik becak. Pulang pergi aku diantar jemput sama becak langganan keluarga. Setelah pulang sekolah, aku suka temenin mami di toko.

Dari kecil aku lebih deket sama mami karena mami yang selalu aku lihat saat pulang dari sekolah sampai malem sebelum tidur. Aku jarang ngobrol sama papi karena kesibukannya. Bisa dibilang dalam satu hari aku cuman ngeliat wajahnya sekali di pagi hari. Kesibukan papi yang ngebuat aku jauh darinya. Sedangkan mami tambah hari tambah sibuk. Kerjaan toko semakin banyak. Setelah tutup toko, mami kecapean terus langsung tidur. Kesibukan mereka yang menyebabkan kurang perhatian mereka ke aku.

Tahun demi tahun aku tumbuh di dalam keluarga ini. Semakin hari aku semakin haus akan perhatian, haus akan cinta dari kedua orang tuaku. Dan tanpa aku sadari, Ivana kecil akhirnya mencari perhatian dan cinta yang tidak didapatkan itu diluar lingkup keluarga. Aku cari cinta dari teman-teman sekolah, dari tetangga, saudara, termasuk mencari cinta dari seorang cowox =)

Sejak kecil (sekitar umur 13 tahun) aku sudah punya pacar. Kenapa punya pacar dari kecil? Karena aku sadar bahwa dengan pacaran aku bisa mendapatkan cinta dan perhatian yang cukup yang selama ini tidak aku dapatkan. Aku selalu menuntut untuk mempunyai pacar yang ready 24/7. Kalo dia ngga bisa kasih cinta dan perhatiannya segitu banyak, maka aku akan merasa bahwa dia sudah tidak mencintai aku lagi. Itu sebabnya juga aku setiap 2 taon pacaran putus dan langsung selalu punya pacar sehabis itu (puji Tuhan hahaha). Perasaan ini terus berlanjut sampai aku datang ke US (bahkan sampai sekitar 3-4 bulan lalu)

Puji Tuhan selama aku di US, Tuhan selalu bimbing aku di jalanNya. Dia nggak pernah meninggalkan aku sekalipun. Bahkan aku nggak perlu mencari-cari cinta disini sebab aku merasakan cinta dari teman-teman seimanku di sini, di PD (Persekutuan Doa) Moses terutama. Gimanapun juga namanya bolong dalam hati ini masih tetep ada. Sesering dan sebanyak apapun cinta yang aku dapatkan dari teman-teman dan pacar-pacar (Eh… maksudnya pacar), aku masih aja ngerasa something is missing. Kebolongan itu Tuhan tunjukkan 2 taon belakangan ini dan aku nggak tau gimana caranya nutupin bolong itu.

Tuhan kerjanya luar biasa! November 2007, Chanuka datang ke Los Angeles dari Portland. Terus aku tanya dia, “Chan, gimana caranya untuk nggak merasakan kekurangan cinta terus?” Chanuka dengan gampangnya dia jawab pertanyaanku, “Then start giving love.” Wow… that’s it? Cuman itu doang? Keliatannya gampang, tapi man… susah dijalaninya. Pertama-tama… aku pikir-pikir lagi, lho wong aku ini kekurangan cinta… kenapa aku yang harus beri cinta? Binunnnn… Tapi aku bawa jawaban Chanuka itu ke dalam doaku tiap malam. Aku minta bantuan Tuhan untuk memberi aku kekuatan agar aku bisa memberi cinta itu. Aku bilang, “Tuhan, aku mau memberi cintaku kepada orang laen, tapi ntar ganti ya cinta yang aku beri ke orang laen ini dengan cintaMu.” Cuman dengan modal itu aku berjalan dan memberi cinta kepada orang laen yang membenci aku, yang memusuhi aku, dan terutama kepada orang tuaku. Tiga sampe empat bulan yang lalu Tuhan tunjukkan bahwa Dia sudah tembel bolong di hatiku ini. Dia sudah sembuhkan lukanya. Bahkan Dia beri cintaNya yang begitu besar, begitu mengalir deras dan meluap-luap di hatiku. Tuhan sudah sembuhkan aku. Dia mengabulkan doaku, mengganti cintaku dengan cintaNya dihatiku. Dengan cintaNya, aku tidak merasa kekurangan lagi.

Bookmark and Share
Continue Reading......

May 13, 2008

Ivana

Gue ketemu Ivana pertama kali waktu dulu sering kumpul-kumpul bareng PD (Persekutuan Doa) Moses di Hollywood. Keceriaan Ivana begitu membawa senyum buat orang di sekitarnya. Satu hal yang membawa senyum yang lebih lagi buat gue adalah kehausannya untuk mencari wajah Tuhan. Dengan ngumpul, ngobrol, hangout, dan saling berbagi cerita dan kesaksian mengenai Tuhan, gue boleh sekali lagi melihat mujizat karya tangan Tuhan atas seseorang yang mencintai Dia. Tuhan bentuk Ivana semakin hari semakin indah sampe satu hari gue ngeliat bahwa keceriaan yang Ivana alami nggak cuma sekedar ceria di luar, tapi keceriaan yang dia miliki berasal dari kedalaman hati yang meluap-luap oleh kasih Allah. Kepolosannya dalam mendekati Tuhan mengingatkan gue bahwa sungguh hanya mereka yang mempunyai hati seorang anak kecil sajalah yang akan mewarisi kerajaan Surga. Terima kasih Tuhan untuk Ivana, hallelujah!

Bro Chan

Bookmark and Share Continue Reading......

Joget

Satu hari ada seorang saudara dalam Tuhan yang nanya, “Clubbing dosa nggak sih?” Gue jawab sambil becanda, “Yah tergantung, kalo ke club berenang, ke club fitness, ke club golf, yah sehat nggak apa-apalah...”

Daud dulu kalo menari di depan tabernakel (peti tempat tabut perjanjian Allah) untuk mempersembahkan bait Allah bisa sampe berhari-hari lamanya (2 Sam 6:14-16). Gue orangnya juga bisa “hyper”, tapi kalo suruh joget tiga hari, gue yakin baru jam keenam gue udah semaput dan bisa-bisa nerusin tariannya dalam mimpi sampe hari ketiga. Tari-tarian dalam Roh sepanjang sejarah bangsa Israel adalah bagian dari ekspresi puji-pujian mereka kepada Allah yang Mahatinggi. Sebagai bangsa yang lagi muter-muter di padang gurun yang nggak memiliki apa-apa, mereka mempersembahkan harta milik mereka yang paling berharga buat Tuhan, hati mereka. Nyanyian, sorak-sorai, dan tari-tarian di dalam Roh, adalah bentuk korban pujian yang tak dapat dipisahkan dari dalam kehidupan mereka. Menari dalam Roh adalah salahsatu bagian dari pujian-pujian yang hidup. Itulah cara mereka untuk melepaskan semua beban kehidupan sehingga mereka bisa meneruskan hidup mereka dengan enteng dan tanpa beban. Saat mereka terhimpit, di situlah saat mereka datang kepada Yahweh sang sumber sukacita mereka. Saat mereka datang ke hadapan Yahweh dengan membawa korban pujian, nyanyian, tarian, dan sorak-sorai, di saat itulah Allah Israel memberikan kelegaan kepada mereka.

Janji itu masih diteruskan dan digenapi saat Allah menjadi daging di dalam pribadi yang kedua dari Tritunggal Mahakudus, “Datanglah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu” (Mat 11:28).

Cyan, anak gue yang umur enam tahun sekarang ngambil kelas sepakbola. Kalo teamnya lagi cetak gol, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Tiap hari Jumat, gue bikin itu hari “jajan” dia di Seven Eleven, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Kalo gue lagi pulang kerja dan Cyan menyambut, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Firman Tuhan berkata, “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamNya” (Mark 10:15).

Hati seorang anak kecil nggak akan mikir dua kali untuk merayakan sesuatu. Hati seorang anak kecil nggak akan mikir dua kali untuk lari ke bokapnya minta tolong. Hati seorang anak kecil begitu lepas dan bebas. Kalo kita ingin mengambil bagian di dalam Surga, hati seperti itulah yang Tuhan mau untuk ada di dalam kita.

Bahkan sampe hari ini, kakak sulung kita, bangsa Israel, orang Yahudi, setiap kali kumpul-kumpul untuk merayakan sesuatu sambil makan-makan bersama keluarga dan kawan, mereka begitu entengnya untuk menari sambil diiringin lagu-lagu dari kitab Mazmur dengan irama timur tengah. Gue tahu hal ini soalnya gue pernah diundang bos gue yang dulu ke perayaan bar dan bat mitzvah mereka (perayaan seorang anak kecil yang mulai masuk ke umur dewasa).

Tari-tarian, sama seperti nyanyian dan sorak-sorai, adalah salahsatu bentuk pujian yang ampuh di dalam perjalanan bangsa Israel. Itu menjadi salahsatu senjata rohani mereka di dalam menjalani perjalanan iman. Saat Injil diwartakan ke bangsa-bangsa bukan Yahudi, budaya tari-tarian di dalam Roh ini mengalami bentrokan identitas. Bangsa Yunani misalnya, mereka juga hyper untuk joget untuk melupakan himpitan kehidupan mereka. Persamaannya berhenti di situ. Sekilas emang sama-sama joget, tapi saat digali ke sisi yang paling dalam di hati, terjadi perbedaan yang besar.

Saat intensi joget itu dikeluarkan dari konteks puji-pujian kepada Allah, maka yang terjadi adalah bencana. Jangankan bangsa Yunani, bahkan bangsa Israel sendiri saat mereka menyembah lembu emas, mereka jadinya ancur-ancuran (Kel 32). Bangsa Israel saat itu terbagi dua. Di satu sisi adalah mereka yang joget gila-gilaan mabuk-mabukan sambil pesta seks dan orgy. Di pihak lain adalah mereka yang masih setia kepada Tuhan yang menahan diri untuk bergabung dalam perbuatan itu. Waktu Musa turun gunung dan melihat hal ini terjadi, sedihlah hatinya dan dia melempar loh batu sepuluh perintah Allah di tangannya untuk menghancurkan lembu emas itu. Dia pisahkan kedua golongan bangsa Israel itu di dua sisi. Firman Tuhan mengatakan bahwa bumi terbuka dan menelan mereka yang tercebur di dalam tari-tarian yang mabuk dan gila itu. Mereka yang bisa menahan diri dibiarkan hidup walaupun akhirnya muter-muter di padang gurun selama 40 tahun.

Nah, waktu Injil diwartakan keluar bangsa-bangsa bukan Yahudi, hal inilah yang terulang lagi. Bangsa Yunani saat joget untuk melupakan himpitan hidup mereka, joget yang mereka lakukan adalah joget lembu emas yang disertai mabuk-mabukan, ngobat biar high, dan pesta seks gila-gilaan. Contohnya pas di Pompei yang akhirnya ditelan ama letusan Gunung Vesuvius, para ahli sejarah menemukan bahwa salahsatu aturan pesta orang Yunani adalah mereka nggak boleh taruh gelas minuman mereka. Gelas harus terus dipegang, begitu kosong, diisi lagi dengan alkohol. Pesta berlanjut berhari-hari disertai dengan permainan orgy yang tak habis-habis. Pada akhir dari pesta itu, semua orang tergeletak, pingsan, mabok, atau teler.

Obrollers, saat seorang bayi menangis, kita bisa lakukan dua hal. Kita bisa pasang musik kenceng-kenceng sampe satu titik tangisan bayi itu nggak kedengeran lagi sehingga kita bisa melupakan bunyi tangisan itu. Atau, kita bisa mencintai bayi itu dan melihat apa yang membuatnya menangis sehingga saat penyebab tangisannya diatasi, maka tangisan itu berhenti.

Seperti bayi itu, hati manusia sering menangis karena terluka oleh duri-duri kehidupan yang tersebar di mana-mana. Lalu apa yang kita lakukan? Apakah kita akhirnya berusaha membuat kebisingan yang luar biasa sehingga kita boleh “mengubur” suara tangis itu? Atau kita melihat apa yang menjadi jeritan hati kita dan datang kepada Sang Tabib di atas segala Tabib untuk disembuhkan dari luka kita?

Intensi. Intensi di belakang tari-tarian itulah yang membuat perbedaan antara apakah kita akan “ditelan bumi” atau kita boleh menemukan kehidupan. Apakah kita menceburkan diri ke atmosfir joget yang disertai alkohol, gerombolan manusia yang mempunyai konotasi seks yang disertai dengan lagu-lagu yang kata-katanya juga berlawanan dengan nilai-nilai kehidupan yang Tuhan ajarkan lewat FirmanNya?

Ataukah kita menceburkan diri ke atmosfir joget dalam Roh di mana tarian yang terjadi adalah ekspresi bahwa sukacita yang terjadi di dalamku adalah sukacita Allah yang boleh menyembuhkan luka-luka hatiku?

Joget adalah karunia Allah. Bahkan Yesus sendiri adalah “Lord of the Dance” buat gue. Bahkan di dalam gerakan di Los Angeles, Tuhan juga memberikan tarian dalam Roh di saat-saat yang vital. Hari keempat retreat Mei 1999, Tuhan berikan tari-tarian dalam Roh dan di situ Tuhan menyampaikan pesan bahwa kebangunan rohani sudah terjadi. Hari ketiga retreat Mei 2000, limapuluh orang boleh menari lebih sambil muter-muter ruangan merayakan Allah dan Tuhan menunjukkan awal ledakan yang nyata dari kebangunan rohani di daerah Los Angeles.

Di dalam kehidupan gue sendiri, saat jiwa gue terhimpit beban berat, salahsatu pelarian gue adalah tari-tarian di dalam Roh. Gue pasang lagu rohani dan gue menari buat Tuhan sambil memuji-muji namaNya di dalam hati gue sampe kepahitan hati itu digantikan dengan sorak-sorai kemenangan.

Bahkan di saat yang paling vital di dalam perjalanan iman gue, Januari 2008, setelah menari di dalam Roh bersama saudara-saudara di dalam Kasih lebih dari sejam sampe lutut gue gemeteran, kaki sempoyongan, dan keringetan kayak disiram air seember, Tuhan boleh membiarkan gue menulis di dalam journal rohani setelah selesai tarian itu dengan pengertian yang jelas apa misi gue dalam hidup ini dan kapan itu akan terjadi. Sambil berlinang airmata, tangan gemeteran, dan hati yang teguh, gue berterimakasih atas pengertian itu. Lewat pengertian itu, gue mengerti jalan mana yang gue harus lalui.

Menari dalam Roh adalah salahsatu bentuk doa. Satu hari nanti gue yakin Tuhan akan beri kita kesempatan untuk menari dalam Tuhan bersama-sama untuk merayakan kasihNya. Gue demen joget? Buat Tuhan dan di dalam Tuhan? Oh Amen!

Jadi, clubbing dosa nggak? Dosa atau nggak, itu bukan keputusan gue. Hanya Allah yang sanggup mengatakan kalo sesuatu itu berdosa atau tidak. Tapi gue jamin satu hal, saat di dalam hatimu ada kerinduan untuk clubbing, ketahuilah bahwa jawaban sebenarnya yang sedang dirindukan hatimu nggak akan dapat ditemui di tempat itu.

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

May 5, 2008

Doa St. Patrick

Shalom Obrollers, gue pengen share satu doa dari kakak rohani kita, St. Patrick saat dia akan menghadapi Raja Irlandia, Loegaire, untuk membawakan kabar Cinta Kasih Injil Kristus. St. Patrick tahu bahwa resiko tertinggi saat dia menhadapi satu kerajaan yang masih menyembah berhala adalah kepala hilang atau nyawa melayang. Tapi api kehidupan begitu menyala di dalam hatinya dan doa ini lahir dari jiwa yang berkobar-kobar dengan Cinta Allah yang sadar bahwa apapun yang terjadi, Kristuslah yang menjadi kekuatan yang sejati.

Walaupun panggilan untuk membawakan api Kristus kepada satu kerajaan atau satu bangsa tertentu adalah sesuatu yang udah jarang terjadi di jaman modern, tetapi panggilan untuk membawa api Cinta Allah di dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang tetap harus kita hadapi setiap hari. Selamat Mengikuti.


Bro Chan
__________

Breastplate of Saint Patrick

I bind unto myself today
The strong name of the Trinity,
By invocation of the same,
The Three in One and One in Three.

I bind this day to me for ever,
By power of faith, Christ's Incarnation;
His baptism in the Jordan River;
His death on cross for my salvation;
His bursting from the spicèd tomb;
His riding up the heavenly way;
His coming at the day of doom;
I bind unto myself today.

I bind unto myself the power
Of the great love of the Cherubim;
The sweet 'Well done' in judgment hour;
The service of the Seraphim,
Confessors' faith, Apostles' word,
The Patriarchs' prayers, the Prophets' scrolls,
All good deeds done unto the Lord,
And purity of virgin souls.

I bind unto myself today
The virtues of the starlit heaven,
The glorious sun's life-giving ray,
The whiteness of the moon at even,
The flashing of the lightning free,
The whirling wind's tempestuous shocks,
The stable earth, the deep salt sea,
Around the old eternal rocks.

I bind unto myself today
The power of God to hold and lead,
His eye to watch, His might to stay,
His ear to hearken to my need.
The wisdom of my God to teach,
His hand to guide, his shield to ward,
The word of God to give me speech,
His heavenly host to be my guard.

Against the demon snares of sin,
The vice that gives temptation force,
The natural lusts that war within,
The hostile men that mar my course;
Or few or many, far or nigh,
In every place and in all hours
Against their fierce hostility,
I bind to me these holy powers.

Against all Satan's spells and wiles,
Against false words of heresy,
Against the knowledge that defiles,
Against the heart's idolatry,
Against the wizard's evil craft,
Against the death-wound and the burning
The choking wave and the poisoned shaft,
Protect me, Christ, till thy returning.

Christ be with me, Christ within me,
Christ behind me, Christ before me,
Christ beside me, Christ to win me,
Christ to comfort and restore me,
Christ beneath me, Christ above me,
Christ in quiet, Christ in danger,
Christ in hearts of all that love me,
Christ in mouth of friend and stranger.

I bind unto myself the name,
The strong name of the Trinity;
By invocation of the same.
The Three in One, and One in Three,
Of whom all nature hath creation,
Eternal Father, Spirit, Word:
Praise to the Lord of my salvation,
salvation is of Christ the Lord.

Translation: Cecil Frances Alexander

Bookmark and Share
Continue Reading......