Apr 29, 2008

Sekantong dan Sebotol

Satu hari di tahun 2002, anak dan istri gue pergi nginep di tempat mertua. “Aku sedih duduk sendiri, mama pergi papa pergi” deh, weits, maksudnya “anak pergi istri pergi.” Gue sengaja nggak ikutan karena mesti nyelesaiin kerjaan. Tapi gue nggak sedih, malah jadi kesempatan bisa keluyuran nggak jelas meskipun buntutnya jadi main game seharian abis-abisan. Nah, karena ngebujang lagi, walaupun cuma sehari semalem, gue pergi deh ke supermarket beli makanan dan jajanan.

Eh di supermarket gue ketemu ama Mario, salahsatu saudara dalam Kristus, yang rumahnya cuma beda satu kota ama gue. Dia lagi beli sekantong keripik kentang dan sebotol soda. Gue bingung ngapain dia belanja di supermarket deket rumah gue? Bukannya deket rumahnya sendiri ada supermarket juga?

Selidik punya selidik, ternyata dia tahu bahwa gue bakal sendirian di rumah, makanya dia rencana mampir ke tempat gue sambil bawa keripik kentang dan soda untuk nemenin gue nongkrong. Inilah kesetiakawanan yang lahir dari kasih. Dan di mana ada kasih di situ ada Allah. Gue tepuk bahunya sambil bilang thank you banget. Gue rasakan penyertaan Tuhan lewat sekantong keripik dan sebotol soda yang dibawa oleh saudaraku dalam Kristus. Nongkrong dan bermain game barenglah kita sampe nggak jelas jam berapa. Maklum dua bujang pengacara (pengangguran banyak acara). Tapi gue bersyukur untuk Tuhan yang selalu ada lewat orang-orang di sekitar kita.

Thank you man. Thank you Lord.

Mujizat Cinta.

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Apr 24, 2008

Ban Serep

Betapa bersyukurnya kita akan ban serep . . . kalo ban kita lagi kempes. Kalo mobil lagi ok ok aja, ada kalanya sering kita nggak inget betapa berharganya ban serep.

Betapa bersyukurnya kita akan kotak obat. Waktu dengkul lagi bonyok abis maen bola, tensoplas dan betadine sudah tersedia. Tapi kalo dengkul lagi ok ok aja, yah nggak ingetlah akan gunanya kotak obat.

Obrollers, betapa seringnya kehidupan doa kita juga seperti itu. Kalo roda kehidupan kita lagi kempes atau kita lagi nabrak tembok dan benjol di dalam perjalanan hidup ini, barulah kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan inget akan Tuhan. Kalo semua lagi ok ok aja, yah doa pagi, doa sebelum makan, doa malem, seminggu sekali ikutan care group atau persekutuan doa cukup lah. Yesus jadi ban serep dan jadi tensoplas di dalam kehidupan kita, baru dipake kalo lagi kepepet.

Kita bersyukur bahwa Yesus sungguh bisa jadi ban serep, tensoplas, atau betadine kalo diperlukan, tapi Dia rindu untuk hadir di dalam kehidupan kita jauh lebih dari itu. Dia rindu untuk hadir di dalam kehidupan kita bukan karena Dia butuh perhatian kita. Allah kita adalah segalanya, Alfa dan Omega, Yang Awal dan Akhir (Why 22:13). Dia ada sebelum semuanya dijadikan dan Dia tetap ada setelah semuanya berlalu. Dia nggak butuh apa-apa. Dia nggak butuh perhatian kita. Tetapi Allah tahu bahwa tanpa diriNya, kita hanya sekedar debu belaka. Karena saat nafas Allah berhembus di dalam kita (Kej 2:7), hanya di saat itulah maka kita bisa mengalami kehidupan yang penuh dan yang sebenarnya. Jadi bukan Allah yang butuh doa kita tapi kitalah yang membutuhkan doa itu, karena tanpa doa maka hubungan kita dengan Sang Kehidupan menjadi terputus. Dan saat ranting anggur itu terlepas dari batang pohonnya, maka ranting itu akan mati dan menjadi kering (Yoh 15:6).

Tunjukkan kepada gue komunitas atau seseorang yang hidup doanya tipis, maka gue bisa tunjukkan komunitas atau seseorang yang api kehidupannya pun pasti redup. Hidup serasa mendung terus, rasa hati bete dan pengennya cemberut terus, sinar matanya sendu, kehidupan serasa dibungkus dengan rasa ketakutan, takut ini takut itu, entar kalo gini gimana, kalo gitu gimana, dingin dan kaku, bergerak rasanya susah, nafas rasanya sesek terus, hidup rasanya cuma hal jelek-jelek aja yang terjadi, itulah suasana yang meliputi hati yang api kehidupannya redup. Hal yang dapat membuatnya tersenyum adalah hal-hal yang berasal dari luar, main video game, shopping gila-gilaan, ke bar mabok, atau hampir mabok, ke club joget-jogetan untuk melupakan sendunya hati dengan kebisingan yang luar biasa, nonton film.

Paus Benediktus XVI saat Misa Rabu Abu 2008 menunjukkan bahwa doa adalah satu-satunya hal yang membuat kita terbuka kepada Allah. Tanpa doa, tidak akan ada harapan, hanya ilusi yang membuat kita melarikan diri dari kenyataan.

Yesus rindu agar kita mengundang dia untuk menjadi nafas dan detak jantung kita. Di mana tanpa kedua hal tadi, kita hanya dapat hidup beberapa menit lamanya. Dia rindu undangan kita karena Dia menghargai kehendak bebas kita. Saat kita katakan “ya” maka dia akan masuk dan membuat kehidupan kita menjadi penuh.

Komunitas atau seseorang yang kehidupan doanya berkobar-kobar, dari dalam dirinya akan memancar api kehidupan yang bersinar pula. Walaupun dunia mau semendung apapun, hatinya tetap tersenyum dan menyala karena hal-hal yang membuatnya gembira semua berasal dari dalam hati. Saat dia lihat orang di kiri dan kanannya, yang dia ingin katakan selalu adalah, “Aku mengasihimu.” Cinta mengalir dengan deras dari dalam hatinya. Hal kecil seperti bunga yang mekar dan ayam yang menetas membuat hatinya melonjak kegirangan akan kesempatan yang Tuhan beri untuk melihat mujizat penciptaan. Saat orang lain boleh tersenyum akan perbuatan kasih yang dilakukannya, hatinya bergirang dan bersorak-sorai karena Tuhan. Setiap halangan di kehidupannya dijadikan menjadi kesempatan untuk terbang lebih tinggi lagi bersama Tuhan. Semakin dia berlari, semakin segar, dia berjalan dan tak pernah mengenal lelah. Dia adalah pohon yang ditanam di sebelah sungai Tuhan, yang tak pernah kekeringan di musim kemarau.

Mother Theresa pernah menyatakan bahwa Tuhan Yesus nggak akan bisa menyamar dari dia. Walaupun Mother Theresa ketemu ama orang miskin yang paling jelek dan bau pun, dia tetap akan cintai orang miskin itu karena Yesus sedang bersembunyi di balik diri orang itu. Sehingga buat Mother Theresa, orang miskin itu tidak jelek dan bau tetapi indah dan harum karena buat dia orang miskin itu adalah Yesus yang sedang menyamar.

Gimana api kehidupan di dalam kita? Apakah berkobar dan bersinar? Ataukah redup bahkan udah mati? Kembalilah, kembalilah tancapkan dirimu ke pokok anggur, Sang Kehidupan itu sendiri. Biarlah kehidupanmu bersinar lagi. Bagaimana orang-orang di sekitarmu, teman, pacar, tunangan, istri, suami, atau anakmu, apakah mereka boleh tersenyum sukacita saat kita ada di dekat mereka karena api kehidupan kita boleh nyamber ke orang-orang ini? Atau sebaliknya?

Kembalilah, kembalilah ke dalam pelukan Tuhan melalui doa. Ketahuilah janjinya, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya (Yes 42:3). Dia akan menerimamu. Dia udah janji, “...barangsiapa datang kepadaKu tidak akan kubuang” (Yoh 6:37). Dia rindu padamu. Dia hadir saat ini dan menunggumu untuk mengundang dia sekali lagi.

Bro Chan
_____

Cuplikan kotbah Paus Benediktus XVI saat Misa Rabu Abu 2008:
“Christ’s prayer on the Cross shows us a person abandoned by all entrusts himself completely in God. Lent teaches us to experience God as the only anchor of Salvation. True prayer is a dialogue with God, and without this our interior dialogue becomes a monologue, giving rise to thousands of self-justifications. Prayer, therefore, is a guarantee of being open to others. True prayer is the engine of the world, because it keeps us open to God. Without prayer, there is not hope, just illusion, which induces us to escape from reality.”

Bookmark and Share
Continue Reading......

Apr 14, 2008

Doa Sejam?

Satu malem di tahun 2000 abis selesai Persekutuan Doa (PD) Hallelujah di Hacienda Heights, ada satu saudara seiman dari Gereja tetangga datengin gue. Karena dia tahu bahwa gue yang melayani di komunitas itu, dia nanya dengan setengah becanda tapi juga setengah nantang, “Chanuka, you doa sehari berapa jam sekarang?” Gue yang denger pertanyaan klasik ini senyum dan doa dalam hati supaya kelemahlembutan Tuhan aja yang terpancar dari kata-kata dan hati gue saat menjawab pertanyaan itu. Dia nerusin ngomong, “Gue sendiri hari ini baru berdoa dua setengah jam sambil sejam puji-pujian memuji Tuhan.” Gue jawab singkat dengan senyum, “Puji Tuhan.”

Abis itu hening dan dia ngeliatin gue nunggu jawaban. Gue pandang dia dengan nyantai tapi jawab dengan nada serius, “Dengan rendah hati, gue sedang belajar dan berusaha untuk bisa doa 24 jam.” Dengan muka kaget, dia angguk-angguk sambil angkat jempol dan tepuk-tepuk bahu gue. Jangankan dia, gue aja kaget denger jawaban gue sendiri. Gue tahu puluhan Firman Tuhan yang bilang gitu dan emang sungguh itu yang gue ingini, tapi gue harus jujur jawaban itu nggak kepikir sampe satu detik sebelum bener-bener keluar dari mulut gue. Gue yakin Roh Kudus yang bekerja detik itu untuk mengajar dia, tapi lebih-lebih lagi untuk mengajar dan mengingatkan gue sendiri manusia yang lemah dan berdosa ini.

”Berdoalah SETIAP WAKTU di dalam Roh” (Ef 6:18)

Banyak dari kita yang udah sering denger anjuran bahwa untuk mereka yang pelayanan untuk bisa berdoa sejam sehari. Gue setuju hal itu. Banyak dari kita yang juga bingung gimana caranya doa sejam, limabelas menit aja udah ketiduran apalagi sejam. Gue juga setuju akan hal itu. Tapi yang lebih-lebih gue setuju adalah doa yang tak pernah putus, doa 24 jam seperti yang dikatakan Paulus di atas. Biarlah di mana kita berada, apakah bangun tidur kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi yang diteruskan dengan menolong ibu membersihkan tempat tidurku, atau lagi nyetir, makan, main golf, lari pagi, nongkrong, duduk hening 2-3 jam di depan Sakramen Mahakudus, baca alkitab, cuci baju, masak, lagi terbuai di alam mimpi pas lagi tidur, dsb, dsb, biarlah kita boleh terus berkomunikasi dengan Tuhan. Tahukan kita bahwa menurut ilmu medis, bahkan saat kita tidurpun otak kita tak pernah berhenti bekerja? Kalo bagian badan fisik kita ada yang nggak pernah tidur, ketahuilah Obrollers, roh kita pun lebih-lebih lagi tak pernah tertidur. Dan yang lebih dari itu, penjagaan Allah atas kitapun tak pernah tertidur ataupun terlelap (Mzm 121:4). Kalo roh kita nggak pernah tidur dan Allah sendiripun selalu bangun menjaga, di manakah roh kita selama 24 jam sehari? Apakah hanya satu, dua, atau tiga jam berhubungan dengan Allah? Ataukah sungguh roh kita lewat setiap hembusan nafas dan setiap detakan jantung ini boleh terus mengatakan “I love You Lord” kepada Dia yang sudah mencintai kita terlebih dahulu?

Gimana sih caranya doa sejam kalo 15 menit aja udah terkantuk-kantuk? Untuk menjawab hal itu kita mulai dengan pertanyaan, apa sih doa itu? Doa adalah ngobrol ama Tuhan. Tapi karena lawan bicara kita adalah Sang Mahatahu, maka jenis obrolannya sedikit berbeda. Obrolan dengan Dia yang mengetahui isi hati kita yang paling dalam tidak memerlukan satu katapun. Jenis obrolannya adalah hati ke hati.

Yesus pandang diriku, dan aku balas tatapan manisNya dan semua curhatku Dia mengerti. Hatiku memandang Dia dan di dalam keheningan aku berbicara tanpa kata dan juga mendengarkan tanpa bicara. Berbicara hanya melalui tatapan dan mendengar hanya melalui anggukan. Tak ada bunyi, sunyi, sepi, tapi Dia mengerti diriku dan aku mengerti diriNya.

Itulah doa.

Bayangkan dua kekasih yang lagi jatuh cinta. Ngobrol rasanya nggak pernah cukup. Sejam atau dua jam rasanya baru introduksi. Ngobrol tiga sampe empat jam rasanya baru selesai pokok pikiran yang pertama. Kalo nggak bisa telepon, nggak bisa ketemu, rasa hati senut-senut. Rasanya pengen bareng terus nggak mau pisah. Esok hari rasanya seperti bulan depan. Seminggu nggak ketemu rasanya seperti setahun. Setahun rasanya seperti seumur hidup. Kalo sampe harus terpisah seumur hidup rasanya lebih baik mati. Yesuslah kekasih jiwa kita. Ngobrol sejam ama kekasih? Wah itu sih sesuatu yang tak terasa, sangat mudah, bahkan malah kurang lama dan maunya lebih dari cuma sejam.

Itulah doa.

Saat kita kenal siapa sesungguhnya Tuhan itu, maka tak ada hal lain yang mungkin terjadi selain cinta yang membara karena dialah Sang Cinta itu sendiri. Cinta yang membara akan menghasilkan kehidupan doa yang membara pula. Buat Obrollers yang baca obrolan ini ada 4 kemungkinan, kehidupan doa kalian emang udah membara dan obrolan ini jadi konfirmasi, kehidupan doa kalian seret dan obrolan ini jadi penunjuk jalan, yang ketiga, lu beneran bingung dan nggak nyambung dengan apa yang gue omongin, atau yang keempat, ada perasaan pahit di dalam hatimu saat baca obrolan ini. Buat yang udah mempunyai kehidupan doa yang membara, puji Tuhan, teruskan sampai doa itu tak terputus menjadi doa 24 jam. Buat yang memelihara kehidupan doa yang udah membara, kontak-kontak warung kita oke, jadi kita bisa saling cerita dan ngobrol lebih lanjut. Buat yang kehidupan doanya masih seret, buka hatimu minta Roh Kudus untuk sekali lagi memperkenalkan siapa Allah itu. Cinta yang membara nggak bisa dipaksa. Cinta yang membara hanya dapat lahir dari pengenalan akan Tuhan. Buat yang nggak ngerti dan bingung kenapa gue ngomongin doa tapi kok pake cinta-cintaan gini, itu berarti Tuhan sedang mengundang kehidupan doamu dari kepala untuk turun ke hati. Tuhan meletakkan panggilanNya di hati dan mulut kita (Ul 30:14). Buat yang baca obrolan ini tapi terasa pahit di hati, itu menunjukkan bahwa di dalam hatimu, engkau masih terluka oleh cinta dan pernah dikecewakan oleh rasa sayang.

Di manapun kehidupan doa kita, ketahuilah Tuhan mempunyai rencana yang indah di dalam kehidupan kita masing-masing. Biarlah kita boleh jatuh cinta kepada Yesus sebagai yang pertama dan utama sehingga kelimpahan kasih dariNya di dalam hati kita boleh melanda orang-orang yang ada di sekitar kita.

Itulah doa gue. Amen!

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Apr 8, 2008

Terdiam

Tuhan, gimana sih kok semua jalan buntu gini? Aku mau ke sini-sana semua pintu tertutup. Engkau bilang kalau pintu tertutup jendela akan Kau bukakan. Kalo semuanya tembok dan nggak ada jendelanya gimana? Aku udah coba semua kombinasi, nggak ada yang cocok. Aku bingung, Tuhan. Mau gimana? Mau kemana? Mau diapain? Udah gitu semuanya gelap, aku nggak bisa lihat apa-apa. Kejedot kiri-kanan, benjal-benjol, terus maunya apa? Bilang dong. Engkau di mana? Kau janji nggak akan pernah tinggalkanku, karena itu aku tahu Kau pasti deket-deket sini. Di mana Engkau? Aku hilang tersesat. Capek, lelah, terluka . . .

Ting . . . waduh, suara Tuhan deket bener . . . itu suara menyapa lembut.

Hmmmm, bener juga, Yesus segalanya bagiku. Yesus jadi senterku. Yesus jadi petaku. Yesus jadi kompasku. Yesus jadi bekal yang mengenyangkan aku. Yesus jadi obatku. Yesus jadi perbanku. Yesus jadi tenagaku. Yesus tinggal di hatiku.

Yes, matahari terbit. Yailah, Yesus bintang timur dan Yesuspun matahari pagi. Haha, ternyata kemanapun aku memandang, Dia di sana. Waktu matahari udah terang kulihat bahwa sebenarnya aku sedang jalan di atas tangan Bapa. Aku nengok ke belakang dan kulihatNya sedang tersenyum padaku, sapanya lembut, “Engkau tak pernah sendirian. Engkau tak pernah terpisah dariKu. Janjiku adalah tetap, percayalah.” Wah makasih Bapa . . . Horeee!

Ting . . . kuterbangun dari tidurku. Tampaknya aku terlelap akibat perjalanan yang melelahkan. Aku teringat mimpiku yang barusan. Aku lihat sekitarku, gelap. Aku maju meraba dan yang kubentur hanyalah tembok berliku dan jalanan berkerikil tajam semata. Kuterdiam. Kuletakkan tanganku di atas hatiku. Aku tahu Dia yang mencintaiku dan yang sudah mati bagiku tinggal di sana. Kuangkat daguku, kutatap lurus ke depan, tak terlihat apa-apa. Gelap gulita. Aku berjalan lagi. . .

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......