
Oleh: Tina
Beberapa minggu lalu, aku membaca renungan yang ditulis oleh Theophan the Recluse tentang salah satu dosa utama manusia, yaitu kemarahan. Puji Tuhan, aku jadi lebih tahu lagi apa itu kemarahan, dan bagaimana cara iblis menggunakan rasa marah supaya manusia berbuat dosa.
Kemarahan adalah suatu emosi. Tidak ada yang salah dari emosi itu tapi kalau emosi itu tidak terkontrol oleh rasa tidak suka, lama-lama emosi itu bisa berkembang menjadi rasa benci dan bisa menjadi salah satu dari 7 dosa pokok. Menurut Katekismus Gereja Katolik no. 1765, kemarahan adalah keinginan untuk membalas dendam dengan melakukan perbuatan jahat kepada seseorang yang pantas untuk dihukum adalah bertentangan dengan hukum. Yesus berkata,“…setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum…” (Matius 5: 22)
Dua cara yang paling sering digunakan iblis untuk menggoda manusia adalah lewat nafsu dan rasa marah. Jika kita tidak tergoda oleh nafsu, maka iblis mulai untuk membuat kita marah lewat hal-hal yang ada di sekeliling kita. Kalau kita tidak bisa membedakan godaan iblis, maka manusia mulai cepat marah pada semua yang ada di sekeliling kita. Dengan begini kita mengijinkan kemarahan untuk menguasai kita, dan memberi tempat untuk iblis. Tetapi kalau kita berhasil untuk melawan godaan untuk marah dan mengusir iblis, kita tidak memberi tempat bagi iblis untuk bersemayam di dalam kita.
Pada saat kita marah, kita memberi tempat bagi iblis untuk bersemayam di dalam diri kita. Pada saat iblis sudah berada di dalam diri kita, dia mulai memberikan pikiran-pikiran yang buruk, atau memanas-manasi kita, sampai akhirnya kita dikuasai oleh api kemarahan. Api kemarahan ini adalah api yang berasal dari neraka, tapi pada saat kita marah kita merasa bahwa kita yang benar, dan orang lain salah. Sebenarnya kita tidak pernah benar di dalam kemarahan. Ini adalah ilusi yang ditimbulkan oleh iblis.
Aku juga pernah mengalami godaan ini. Suatu hari teman kerjaku menemukan dokumen yang aku taruh di tempat yang salah. Lalu dia langsung mengadu ke atasanku tentang kesalahanku dan dia nggak ngerti kenapa aku bisa seceroboh itu. Aku tahu atasanku nggak akan marah, karena hal ini bukan hal yang besar. Tapi aku nggak suka dengan cara teman kerjaku itu yang langsung mengadu ke atasanku.
Tiba-tiba aku mulai teringat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh teman kerjaku yang aku nggak pernah laporkan ke atasanku karena menurutku semua orang bisa berbuat salah; yang penting kita belajar dari kesalahan kita dan tidak mengulanginya lagi. Perlahan-lahan aku merasakan perubahan emosi, dari yang ceria, trus jadi sebel pas aku dengar temen kerjaku mengadu, terus jadi tambah sebel setelah aku ingat kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh teman kerjaku, sampai akhirnya aku bener-bener ingin mengadukan semua kesalahan-kesalahan teman kerjaku itu ke atasanku.
Puji Tuhan, hal itu terjadi setelah aku membaca renungan Theopan the Recluse ini. Jadi pada saat aku tiba-tiba ingat akan kesalahan-kesalahan teman kerjaku itu dan ingin sekali melaporkannya ke atasanku, aku tahu bahwa iblis sedang memanas-manasi aku supaya aku marah.
Lalu aku mulai berdoa singkat, mohon kekuatan dan bantuan dari Tuhan untuk mengusir si iblis. Pada saat kita marah, kita berada di frekuensi yang berbeda dengan Tuhan. Dengan berdoa atau mengucap syukur, kita yang sakan kembali ke frekuensi yang sama dengan Tuhan dan menjauh dari iblis. Puji Tuhan, setelah aku berdoa rasa marah ku itu mulai mereda sampai akhirnya hilang sama sekali.
Setelah kemarahan kita reda dan dengan pikiran jernih mulai menganalisa kejadian yang baru saja berlangsung dengan iman, biasanya kita tidak menemukan ada yang salah dari semuanya itu. Si iblis mengubah apa yang benar menjadi salah, sehingga kita merasa diri kita yang benar untuk membuat kita marah, dan selanjutnya berbuat dosa.
Jika karena kedagingan kita yang lemah kita menjadi marah pada seseorang dan berbuat dosa, St. Paulus berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan pada iblis.” (Efesus 4:26-27). Kita perlu minta bimbingan Roh Kudus agar kita bisa mengetahui pada saat iblis sedang menggoda kita untuk marah, sehingga kita bisa segera mengatasi rasa marah itu dan mengusir iblis.![]()
Oct 22, 2008
Kemarahan
Labels:
Renungan Pengajaran
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment