
Oleh: Tante Erlina
Waktu aku dan kedua anakku datang ke Amrik, saat itu di i\Indo pembangunan lagi maju-majunya. Tampak hampir seluruh penduduknya hidup cukup, berkelimpahan, tenang, dan damai, termasuk suamiku yang usahanya sebagai subkontraktor cukup maju. Tetap saja ketika aku mendapat kesempatan untuk bisa pergi ke Amrik, tak kusia-siakan peluang itu. Singkat cerita sampailah aku dan kedua anakku di Los Angeles pada tanggal 5 Agustus 1993.
Walaupun mendapat kiriman uang untuk biaya hidup, memulai hidup di LA tidaklah segampang yang kita bayangkan. Dengan suasana yang benar-benar sangat berbeda, kita dituntut untuk mempunyai mental tahan banting. Puji Tuhan, semua itu dapat kami atasi bersama. Pada suatu hari di Indo suasana berubah, ekonominya jatuh termasuk juga usaha suamiku macet yang mengakibatkan nggak bisa kirim bantuan lagi. Sampai satu tahun dia nggak bisa kirim uang. Aku minta dia untuk datang ke LA agar bisa bantu aku untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aku sudah punya dua job tapi masih belum tercukupi. Singkatnya pada tanggal 14 februari 1998 suamiku tiba di LA.dan beberapa bulan kemudian dia mendapat pekerjaan.
Suatu hari kami berusaha untuk mendapatkan status legal untuk dapat tinggal di Amrik dengan jalan apply asylum. Hanya itu yang dapat kami lakukan walaupun itu membutuhkan banyak biaya. Permohonnan asylum kita ditolak jadi kita harus naik banding. Bersamaan dengan itu anakku yang besar akan masuk University dan krn status kami belum jelas maka anak kami dikenakan tuition sebagai international student. Dua kejadian tersebut membuat aku “down,” sedih, takut. Aku harus pikirkan cara untuk mengatasi semua ini. Saat itulah aku mulai cari Tuhan. Aku rindu Tuhan dan aku mulai lebih banyak berdoa. Di samping itu aku harus tambah satu job lagi untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup di LA. Suatu hari Tuhan jamah hatiku yang mana aku rasakan hidupku ini udah nggak bener, kerja keras, tiga job, nggak ada waktu untuk pergi ke Gereja. Siang malam hanya mencari uang, aku pikir pasti dapat memenuhi kebutuhan. Kenyataannya masih jauh dari itu. Hatiku terasa kosong, ada sesuatu yang kurang. Jadi aku putuskan untuk melepaskan satu job. Eh... hatiku masih juga belum tenang... Lalu aku lepaskan lagi satu job dengan keyakinan yang pasti bahwa Tuhanku pasti akan mencukupiku. Aku yakin kalau bukan karena pekerjaan Tuhan, aku nggak akan berani dan sanggup untuk melepaskan semua itu.
Jadilah aku hanya punya satu job dan dengan itu hatiku mulai tenang dan aku pasrah serahkan semua itu pada Tuhanku. Nggak menunggu terlalu lama, mulailah Tuhan buktikan akan janji-janjiNya. Dipenuhilah firmanNya. Ia cukupi segala kebutuhanku hanya dengan satu job dan aku diberiNya waktu untuk mengenalNya lebih dekat lagi. DitambahkanNya juga kerinduanku akan firman-firmanNya. Semakin aku lebih mendekatkan diriku padaNya, makin aku diberiNya segala kelimpahan, jasmani dan terutama rohaniku. Kelimpahan itu terus berlangsung, berkat-berkat tercurah dari surga hingga pada tanggal 9 februari 2004 Tuhan kasih aku rumah doa, rumah tempat tinggal yang berdampingan dengan Gereja yang mana setiap saat aku bisa datang menemui Tuhan. Mulailah rumah doaku dipakai untuk Persekutuan Doa dan Rosary Care Group serta doa Novena setiap minggu. Anakku yang besar tahun 2006, dan yang kecil tahun 2007 lulus University... Alleluia!
Berkat terus tercurah, kami semua sukacita selalu dan yang kami pikirkan hanya satu, ialah MENYENANGKAN HATI BAPA... amin! Dan yang lebih membuat hatiku sukacita saat ini, Bapaku memilih aku untuk menjadi prajuritnya dan diberinya seorang pembimbing yaitu Chanuka yang dengan bimbingannya, aku lebih lagi mengerti akan firman-firman Tuhan yang jadi tujuanku hidup di dunia ini. Kalau bukan jalan Tuhan nggak mungkin aku bisa datang ke Amrik ini dan hidup berkelimpahan disini. TERIMAKASIH TUHAN, aku mengucap syukur. Amin!![]()
Sep 22, 2008
Tuhan Penuhi Kebutuhanku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment