Sep 26, 2008

Terdampar Satu Setengah Jam

Setelah perjalanan berjam-jam dari Amrik ke Jakarta (baca: "Pesawatku Bergoyang"), akhirnya sampailah kita di Cengkareng, ALLELUIA!!! Gue udah isi semua dokumen kedatangan, dsb, dsb. Antrilah kita di depan imigrasi selama setengah jam. Cyan, anak gue, begitu baik untuk nunggu dengan sabar walaupun keringat bertetesan. Begitu giliran kita, gue berikanlah semua dokumen. Si petugas bilang, “Maaf pak, ini salah isi, tolong dibetulkan.” Yaaah, sumbang banget!

Paspor amrik pake formulir merah, paspor Indo pake formulir ijo. Gue mana tahu formulir ada macem-macem warna gitu. Gue ngisinya dua-duanya merah karena dikasihnya begitu ama pramugari. Pergilah gue untuk nulis formulir ijo sambil terus menjaga hatiku untuk terus berterimakasih ama Tuhan akan kasih setiaNya (kalo nggak gitu udah pengen ngamuk rasanya...). Sambil ngisi terpikirlah, “Waduh gue entar mesti ngantri setengah jam lagi untuk nyampe depan?” Buang nafas...

Ada hal kedua yang gue juga nggak tahu. Cyan sebagai warga negara Amrik mesti punya visa singgah. Ini gue nggak siap karena terakhir balik pas tahun 2002, istri anak gue yang berwarga negara Amrik nggak perlu pake gitu. Peraturan ternyata udah berubah.

Jadi selain isi formulir ijo, gue dan Cyan ngantri di bagian pengambilan visa singgah. Panas, bejubel, dan panjaaang banget itu antrian. Wah, ngantri lagi? Gue terus doa minta Tuhan beri kekuatan. Gue antri pas bareng orang-orang yang baru mendarat dari Arab. Mereka sesamaku manusia yang gue hargai. Tuhan sayang mereka sama seperti sayang ama gue. Tapi gue harus akui ada dua hal yang gue harus “bertarung.” Pertama, itu orang gedenya pada segue semua dan mereka dorong-dorong nggak jelas. Jadilah antriannya jadi brutal! Waduh, terowongan Mina pindah ke Cengkareng ini?! Kedua, buang nafas... cuma yang kali ini bukan karena berusaha tenang, tapi karena gerombolan orang-orang ini UAB TENGAB! (Bahasa SMA dulu... apa artinya? Balik saja hurufnya). Gue aja sesek nafas, apalagi Cyan. Dia minta gendong, tangan gue penuh kertas. Akhirnya gue minta dia berdiri di pojokan di luar barisan antrian untuk nunggu gue.

Sambil ngantri gue kepikiran tas bagasi gue apa kabar nih?

Kalo gue terjebak tiga hal, formulir ijo, antri brutal, dan uab tengab, tapi Tuhan jawab dengan TIGA mujizat!

Yang pertama, pas akhirnya kelar antri setelah 45 menit di bagian visa singgah, di bagian imigrasi TIDAK ada orang antri sama sekali. Kosong blong... Gue dateng ke petugas yang sama sambil memandang tajam walau tetep dengan kepala dingin. Dia jadi nggak enak dan ngajakin gue ngobrol sambil sok ngasih info soal-soal keimigrasian.

Yang kedua, pas gue mau ambil bagasi, salahsatu porter udah ada yang ngumpulin 3 tas gue dan dia tungguin sambil cari-cari “Pak Erdita.” Puji Tuhan!

Yang ketiga, mujizat yang terbesar, setelah satu setengah jam terdampar di pulau imigrasi, akhinrya kita bisa keluar. Gue suruh Cyan lari cari “Eyang Kakung”nya. Waktu ketemu terjadilah peluk satu sama lain, bokap-nyokap, gue, Cyan, adik gue dan calon suaminya. Mujizatnya di mana? Saat gue lihat ekspresi bokap-nyokap yang ketemu Cyan, aaah, satu setengah jam yang gue harus lewati serasa begitu enteng. Dibanding ekspresi mereka, satu setengah jam gue nggak ada artinya. Terim kasih Tuhan!

Melewati lembah kekelaman aku tak takut bahaya karena Engkau besertaku. Kebajikan dan kemurahan belaka yang akan mengikuti aku seumur hidupku (Mzm 23:4-6)

Bro Chan

Bookmark and Share

0 comments: