Naik pesawat ke Indo buat gue kayaknya udah bosen banget tapi buat anak gue lain. Buat Cyan ngeliat pesawat segede gitu bikin dia kagum. Apalagi waktu dia tahu bahwa kita dikasih makan di atas pesawat. Begitu seneng dia. Gue sampe bingung dan nyadar sambil memaklumi bahwa dia biasanya naik pesawat cuma dari Portland ke Los Angeles yang makanannya cuma kacang doang (itupun dia nggak bisa makan karena alergi). Kasihan juga nih anak amrik, ngeliat pesawat segede gini bingung... hehe.
Pas Cyan udah tidur, gue gandeng tangannya untuk bersatu di dalam Roh dan berdoa. Gue setengah terkantuk-kantuk, pesawat tiba-tiba bergoyang. Dikit-dikit, berhenti, dikit-banyak, berhenti, banyak-banyak, lho, kok jadi serem gini goyangnya...
Di situ gue yang udah setengah tidur doa lagi. Gue merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sadar kalo gue ini manusia lemah yang akan lenyap tanpa Tuhan. Pesawat gue terbang dengan ketinggian 35 ribu feet dan di luar gelap banget, kalo ada apa-apa, gue bisa apa?
Gue ini hanya sebutir debu di mata Tuhan tapi dia kenalku dengan namaku. Dia yang mengenal sisi hatiku yang paling dalam dan Dia udah mati bagiku. PenjagaanNya tak pernah terlelap (Mzm 121:4).
Lewat goyangnya pesawat, gue diingetkan siapa gue dan siapa Tuhan. Terima kasih Tuhan. Engkau ajaib. Engkau Allahku yang kupercaya.
Bro Chan![]()
Sep 19, 2008
Pesawatku Bergoyang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment