Sep 18, 2008

Ketinggalan

Gedubrak, gedubruk, beres-beres, siapin semua barang yang ada di daftar yang harus dibawa, koper terisi penuh. Perasaan campur aduk, ada seneng, ada kuatir. Seneng, karena bulan Agustus ‘08 gue bisa pulang Indo. Kuatir, karena di kepulangan yang kali ini gue berdua doang ama Cyan, anak gue, karena istriku tercinta nggak dapet cuti.

Gue keingetan betapa repotnya terakhir pulang ke Indo bawa Cyan waktu dia masih umur 1 tahun. Capeeeeek. Tapi kali ini dia udah hampir 7 tahun jadi harusnya mendingan. Gue serahkan semua ama Tuhan.

Kita semobil nyetir ke airport Seattle yang kira-kira 3 jam dari tempat gue. Semua udah ok. Gue sampe depan tempat check-in, eeeh ternyata ada yang nggak ok...

Gue ketinggalan greencard! Gue sampe terpaku, tertegun, mematung, saking nggak percayanya. Semua daftar udah gue tulis, tapi yang satu itu kelewatan berhubung sibuk ngurusin yang lain. Setiap kali pulang ke Indo, dokumen perjalanan gue selalu lengkap. Udah gitu pulang ke rumah nggak mungkin karena jarak yang harus ditempuh 3 jam lamanya...

Sambil doa minta tolong Tuhan, gue tanya ke orangnya apa yang gue bisa lakukan. Dia bilang kalo pulang ke Indo masih OK, tapi baliknya bakalan problem. Selidik punya selidik, ada anak PD di Portland sini yang juga bakal pulang satu setengah minggu kemudian setelah gue. Makasih buat Sandrio dan Connie.

Gue sori-sori ama Tuhan untuk kelalaian gue. Di saat yang sama gue juga thank you-thank you ama Tuhan karena Dialah yang tutup kelemahanku.

Jadilah greencard bisa nitip untuk gue ambil di Surabaya.

“Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunungNya yang kudus” (Mzm 3:4).

Bro Chan

Bookmark and Share

2 comments:

adm2i2h said...

Shalom,

Blog kamu Bagus & inspiratif buat saya pribadi. Smoga buat pengunjung yg lain jg. Tetaplah menulis...

JBU.

PS: Mengundangmu jalan-jalan ke blog saya:

http://islamexpose.blogspot.com

Bro Chan said...

Halo adm2i2h,

Gue udah mampir dan baca-baca blog anda. Gue katakan bahwa setiap orang layak untuk memiliki pendapat. Gue hormati pendapat lu. Gue nggak akan menghakimi dalam bentuk apapun karena gue percaya bahwa tiap kita dipanggil di dalam panggilan iman kita masing-masing dengan bentuk yang berbeda satu sama lain. Selama kita secara jujur rindu untuk mengikuti suara Allah dan sanggup mempertanggungjawabkan jawaban kita di hadapanNya, maka semua adalah urusan pribadi kita dengan Dia. Gue akan doa buat lu dan gue juga mohon dukungan doa lu...