Gue ngobrol ama satu orang, kita sebut aja namanya si Tono, dan dia curhat sambil nanya (di bawah ini rangkumannya):
Aduh gue beberapa bulan belakangan ini rasanya digebukin kiri-kanan bertubi-tubi oleh badai yang mengamuk. Hidup rasanya sumpek banget. Gue sendiri kalo doa sampe nangis karena minta pertolongan Tuhan. Tertekan sekali rasanya dan serangan nggak abis-abis. Gue sampe tanya, Tuhan kok gini, emang harusnya kayak gini? Gue ngerasa Tuhan sedang ijinkan iblis untuk mencobai gue. Gue ngeliat dan inget lu waktu dulu juga ditempa kayak gini kan? Gue ngeliat, kok lu kayaknya happy-happy terus, lha gue kok terjepit rasanya?
Satu hal yang kita harus hati-hati Tono, jangan sampe kita terjebak oleh pikiran tersesat dari musuh bahwa Tuhan “mengijinkan” iblis untuk mencobai dirimu. Gue punya anak, lu juga punya anak kan? Kita sebagai sesama bokap, masakah dengan alasan untuk “membentuk” anak kita, maka kita akan bayar orang lain untuk ngerjain dia biar dia digebukin kiri-kanan? Anak gue masih umur enam setengah tahun, kalo ada orang yang mau macem-macem ama anak gue, maka gue yang akan berdiri di depan orang itu dan menatap dia tajam-tajan sambil bilang, “Jangan sembarangan, mundur lu…” Bahkan gue akan mempertahankan anak gue sampai titik untuk siap sabung nyawa gue sendiri. Itulah cinta. Nah, kalo kita bokap di dunia aja bisa mikir gitu, apalagi Bapa di Surga yang adalah Sang Kasih sendiri??? Bukankah Dia akan membela kita dengan lebih lagi?
Allah, Sang Kasih, Bapa kita di Surga, bahkan udah buktikan hal itu. Dosa udah siap menelan kita, umat manusia ciptaanNya, dengan bulat-bulat. Tapi Dia berdiri di depan si jahat (gue kasih huruf kecil karena gue lagi ngomongin si iblis) sambil bilang, “Kalo lu mau macem-macem, kalo lu mau tagih utang anak-anakKu, mundur… Aku yang akan bayar lunas dengan nyawaku sendiri.” Dia berikan nyawaNya dan bayar jiwa kita dengan darah yang tercurah dari Kayu Salib. Itulah cinta seorang Bapa kepada anakNya. Itulah Cinta sejati.
Soal gue kelihatannya happy-happy aja, mari kita selidiki dengan teliti kata-kata Allah di Ulangan 28:47-48. Lewat sini Tuhan jelaskan bahwa kehidupan yang berkelimpahan adalah berasal dari Allah, tetapi rasa sukacita dan terimakasih hanya dapat lahir dari kehendak bebas manusia. Semua orang yang masih hidup di dunia yang udah jatuh ke dalam dosa ini harus melewati badai. Jangan sampe kita pernah mikir, karena gue menjalani panggilan kudus, atau karena gue berjalan di jalan Tuhan, maka serangan badai terhadap gue lebih besar dibanding ama orang lain. Itu adalah kesombongan hati. Itu adalah omong kosong yang dilempar oleh si jahat.
Karena kalo kita percaya ama pikiran itu, maka itu akan jadi alasan buat kita untuk akhirnya mundur dari Tuhan sambil bilang, ‘Ah, ikut Tuhan susah…’ Itulah hasil yang emang udah ditunggu-tunggu dan diinginkan oleh si jahat! Si iblis akhirnya berhasil untuk menjebak kita!
Gimana bisa, ikut Tuhan susah? Gimana bisa, ikut Tuhan kehidupan jadi berat? Tuhanlah JALAN, KEBENARAN, KEHIDUPAN, dan BERKAT BERKELIMPAHAN itu sendiri. Dia bahkan undang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya dan belajar dariNya yang lemah lembut dan rendah hati jadi kita bisa lega. Dia juga bilang bahwa semua yang kita angkat itu adalah RINGAN (Mat 11:28).
Kita pengen punya kompas di dalam kehidupan kita? Hidup berkelimpahan di dalam Kasih dan Kebenaran Tuhan?
Bersambung ke Bagian 2...
Bro Chan![]()
Jul 7, 2008
Tertekan (1)
Labels:
Pertumbuhan Iman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment