Dari Bagian 1...
Ataukah kita ingin terus terombang-ambing oleh ombak kehidupan, cita-cita nggak jelas, arah hidup nggak jelas, tiap bangun pagi kepikiran masalah yang mengikat, kepikiran berangkat kerja, atau kepikiran pasangan hidup, eh malah jadinya bete? Kerjaan? Yah yang penting bisa hiduplah, punya mobil, udah menikah, punya rumah, punya game, bisa nonton TV, ya udah mau apa lagi? Eeeh, nggak kerasa tahu-tahu hari pensiun udah tiba. Udah gitu diteruskan dengan persiapan untuk “meninggal”kan dunia ini tanpa pernah melakukan apa-apa yang menjadi panggilan Tuhan di dalam kehidupan? Itukah yang kita mau?
Kalo kita nggak mau hal itu, ketahuilah, Tuhanlah JALAN, KEBENARAN, KEHIDUPAN, dan BERKAT BERKELIMPAHAN itu sendiri (Yoh 14:6, Yoh 10:10b). Bahkan Yesus bilang bahwa yang letih lesu akan disegarkan oleh kelemahlembutan dan kerendahan hatiNya. Ini adalah kebenaran iman.
Jadi, mari kita lihat kalo gitu, siapa yang lagi ngibul dan siapa yang lagi dikibulin? Kalo ada orang yang bilang, “Ah, ikut Tuhan susah…” Dengan rendah hati dan di dalam Kasih Tuhan yang lembut, gue harus bilang bahwa orang seperti inilah yang lagi dikibulin ama si jahat. Atau kalo istilah obrolan bisnis di Indo, “Ah lu mah lagi dikadalin lu…” Yoi, dikadalin ama iblis!
Tono, kembali ke Ulangan 28:47-48, jadi kalo lu bisa bilang bahwa gue kelihatannya happy-happy aja, yah thank you banget nih pertama-tama, puji Tuhan! Tapi ketahuilah, semua itu bisa terjadi karena kehendak bebas sebagai manusialah yang memutuskan untuk happy, memutuskan untuk bersukacita, memutuskan untuk berterimakasih ama Tuhan di tengah segala jalanan berliku dan badai yang sedang mengamuk. Sukacita dan terimakasih adalah keputusan kehendak bebas manusia. Jadi kalo badai lagi bertubi-tubi, ambil waktu justru semakin ngotot untuk bersukacita dan berterimakasih ama Tuhan. Terima kasih untuk mobilku, untuk laptop, untuk anak istri, untuk makanan hari ini, untuk cuaca yang baik, untuk udara gratis, untuk pemandangan indah, dst dst, sambil terus sebutkan berkat berkelimpahan yang udah kita terima dari Allah.
Gue nggak bilang bahwa kalo ada kepahitan dalam kehidupan maka kita pendam semuanya dalam-dalam dengan alasan pengen happy, bukan! Satu-satunya obat penyembuhan kepahitan hati adalah pengampunan, tak ada yang lain. Tapi saat pengampunan itu udah terjadi dan sedikit-sedikit hati kita terbentuk untuk semakin indah, maka rasa sukacita dan ucapan terima kasihlah yang seharusnya mengalir dari dalam kita, 24 JAM sehari tanpa pernah putus!
Berkat berkelimpahan adalah dari Allah, tetapi rasa sukacita dan berterimakasih adalah keputusan manusia. Maka jenis badai apapun tak akan mempan gigitannya karena kita ada di dalam keputusan untuk bersukacita dan berterimakasih 24 jam sehari. Jadinya happy terus. Rasa happy atau sukacita itu bukanlah satu keajaiban yang nongolnya darimana nggak jelas, tapi rasa happy itu adalah keputusan yang kita buat karena Yesus, Sang Sukacita sendirilah, yang tinggal di dalam hati kita.
OK, semoga bisa bantu, Tono. Kita saling mendoakan yah. Biar nama Tuhan yang terus dipuji!
Amen!
Bro Chan![]()
Jul 7, 2008
Tertekan (2)
Labels:
Pertumbuhan Iman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment