Jul 31, 2008

Asam Garam Dunia

Sebagai orang timur, orang Indonesia, kita sering denger bahwa kita harus dengarkan orang yang lebih tua karena mereka sudah makan “asam garam” dunia ini lebih banyak daripada mereka yang muda. Gue sih ok ok aja. Tapi gue nggak mau berhenti di sini. Pertanyaan gue berikutnya adalah, “Setelah makan asam garam dunia yang begitu banyak, apakah hati kita jadi ikutan kecut dan asin?”

Standard ini yang gue berikan atas diri gue sendiri. Semua manusia yang melewati kehidupan di dunia yang udah jatuh daam dosa ini pasti akan makan asam garam dunia. Yang jadi tantangan buat kita yang menyangkal diri, pikul salib, dan ikut Yesus tiap hari ini adalah apakah hasil dari makan asam garam itu adalah hati yang kecut asin ataukah hati kita jadinya manis dan bersinar?

Di sinilah kunci rahasia iman kita. Kakak-kakak rohani kita menelan asam garam dengan begitu berlimpah, tapi hati mereka justru jadinya manis dan bersinar indah. Kok bisa? Yang disebut “kunci rahasia iman” bukanlah sesuatu yang harus kita cari jauh-jauh kayak cari harta karun bajak laut yang susahnya nggak ketulungan dan lokasinya nggak jelas di mana. Kunci rahasia iman itu udah ada di kantong kita saat kita dibaptis dan menjadi anggota Gereja Kristus Universal yang kita tinggali. Gereja yang oleh Paulus disebut sebagai pilar kebenaran (1 Tim 3:15). Dengan bermodalkan Firman Allah di dalam alkitab, Katekismus, dan hati yang haus untuk mereguk kebenaran Allah yang disimpan secara penuh di dalam Gerejanya, kunci iman itu udah ada di kantong. Sayang buat banyak orang, kunci itu terus ditinggal di kantong.

Di luar kehujanan, angin dingin, badai mengamuk, awan gelap, tapi tetep di luar terus, walaupun di dalam begitu hangat dan penuh makanan yang baik. Kuncinya dikantongin nggak dipake. Akhirnya meringkuk masuk angin dan sakit.

Masuk yuk masuk, di luar hujan angin nih… Tuhan Yesus udah undang dan udah kasih kuncinya kok…

Asam garam dunia itu berbuahkan kecut dan asam atau manis dan terang, itu urusan pribadi kita dengan Tuhan. Ngeceknya gimana? Lihat kata-kata yang keluar dari hati kita yang nongol lewat pikiran perasaan yang kadang keluar lewat mulut atau lewat tulisan. Apakah kecut asin ataukah manis terang.

Gereja mengajak kita untuk menyucikan hal ini di awal Ibadah Minggu kita:

Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepada Saudara sekalian bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya sungguh berdosa… dan seterusnya.

Sesuatu hal rutinitas yang kita sering lupa kenapa kita katakan itu tiap minggu. Rutinitas ataukah sesuatu yang dihayati, yah itu urusan kita langsung ama Tuhan. Yang jelas satu hal, lihat buahnya yang keluar dari pikiran, perkataan, dan perbuatan kita, apakah kecut asin, ataukah manis terang?

Bro Chan

Bookmark and Share

0 comments: