Jun 3, 2008

Menjawab PanggilanNya


Oleh: Tina

Aku mau sharing sedikit tentang pengalamanku waktu retret minggu lalu. Biasanya di akhir session, Romo ngasih pertanyaan-pertanyaan untuk kami renungkan dan kemudian di sharing-in di kelompok. Di akhir session “Kekatolikan: Suatu Life Style yang Menguduskan Hidup” romo ngasih pertanyaan: Apa yang biasanya aku lakukan untuk memelihara iman Katolik saya?

Biasanya kami langsung masuk ke kelompok sharing, tapi kali ini Romo mau beberapa orang maju untuk sharing ke semua orang. Seperti biasa, aku gak kepikir sama sekali untuk maju sharing, soalnya aku suka gugup kalo ngomong di depan orang banyak. Lagipula jawabanku juga mirip dengan sharing temen-temen yang lain. Pas lagi dengerin sharing mereka, tiba-tiba Tuhan ngingetin aku tentang gimana selama ini imanku tumbuh dan berkembang lewat PD (Persekutuan Doa). Semakin lama dorongan untuk sharing itu semakin kuat. Trus aku langsung inget, Bro Chanuka pernah ngebahas tentang “to be responsive – respond in 1 second.”

Jadi, pada saat Tuhan ngasih kita tugas kita harus respond dalam 1 detik, jangan dipikir-pikir lagi. Berhubung saat itu masih ada orang lain yang sharing di depan, aku masih sempet mikir-mikir: maju apa nggak? maju apa nggak? Puji Tuhan akhirnya aku mutusin untuk maju; aku pertamanya pikir aku udah kenal sebagian besar peserta retretnya, jadi gak apa-apa lah, aku gak akan gugup.

Setelah aku maju ke depan ruangan, aku ngerasa ruangannya jadi penuh banget dan peserta retretnya jadi tambah banyak. Akibatnya, semua sharing yang sudah aku siapkan hilang semua. Puji Tuhan, berkat bantuan Tuhan aku tetep bisa sharing tentang gimana imanku tumbuh dan berkembang lewat PD.

Setelah aku balik ke tempat duduk, aku ngerasa lega & seneng banget karena bisa menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadaku. Tapi, aku juga sadar karena kegugupanku, aku ngomongnya jadi berantakan dan kurang focus ke inti dari sharingku. Aku jadi khawatir temen-temen gak nangkep inti dari sharingku itu.

Pas pulang dari retret, aku sempet sharing tentang hal ini ke Bro Chanuka dan Chanuka ngasih aku kutipan dari Keluaran 4:10-12. Kutipan itu tentang Musa yang ragu-ragu untuk menjalankan perintah Tuhan karena dia merasa dirinya tidak pandai bicara. Trus Tuhan bilang ke Musa bahwa Tuhanlah yang membuat lidah manusia dan Tuhan akan selalu menyertai dan mengajar Musa apa yang harus ia katakan.

Puji Tuhan, dari kutipan ini aku dikuatkan buat nggak ragu-ragu lagi untuk menjalankan tugas dari Tuhan. Walaupun aku gak pandai bicara, aku yakin Tuhan lah yang menyertaiku dan mengajarkan apa yang harus aku katakan. Hallelujah!

Bookmark and Share

0 comments: