
Oleh: Ivana
Bisa dibilang aku datang bukan dari keluarga yang bahagia. Aku dua bersaudara. Kakakku (Ivo) dari kecil sudah dirawat oleh omaku. Jadi aku hampir tidak pernah merasakan yang namanya cinta dari seorang kakak. Sedangkan oma emang lebih sayang ke kakakku dari sejak kecil sebab dia anak pertama laki-laki. Aku tinggal bersama orang tuaku. Mami sibuk mengurusi toko, sedangkan papi sibuk mengurusi kerjaannya sendiri. Tiap hari aku ketemu kedua orang tuaku, tapi itu hanya ketemu aja. Pagi hari sarapan bersama mami dan papi. Setelah itu aku pergi kesekolah. Kadang aku dianter sama papi, tapi kebanyakan aku pergi ke sekolah naik becak. Pulang pergi aku diantar jemput sama becak langganan keluarga. Setelah pulang sekolah, aku suka temenin mami di toko.
Dari kecil aku lebih deket sama mami karena mami yang selalu aku lihat saat pulang dari sekolah sampai malem sebelum tidur. Aku jarang ngobrol sama papi karena kesibukannya. Bisa dibilang dalam satu hari aku cuman ngeliat wajahnya sekali di pagi hari. Kesibukan papi yang ngebuat aku jauh darinya. Sedangkan mami tambah hari tambah sibuk. Kerjaan toko semakin banyak. Setelah tutup toko, mami kecapean terus langsung tidur. Kesibukan mereka yang menyebabkan kurang perhatian mereka ke aku.
Tahun demi tahun aku tumbuh di dalam keluarga ini. Semakin hari aku semakin haus akan perhatian, haus akan cinta dari kedua orang tuaku. Dan tanpa aku sadari, Ivana kecil akhirnya mencari perhatian dan cinta yang tidak didapatkan itu diluar lingkup keluarga. Aku cari cinta dari teman-teman sekolah, dari tetangga, saudara, termasuk mencari cinta dari seorang cowox =)
Sejak kecil (sekitar umur 13 tahun) aku sudah punya pacar. Kenapa punya pacar dari kecil? Karena aku sadar bahwa dengan pacaran aku bisa mendapatkan cinta dan perhatian yang cukup yang selama ini tidak aku dapatkan. Aku selalu menuntut untuk mempunyai pacar yang ready 24/7. Kalo dia ngga bisa kasih cinta dan perhatiannya segitu banyak, maka aku akan merasa bahwa dia sudah tidak mencintai aku lagi. Itu sebabnya juga aku setiap 2 taon pacaran putus dan langsung selalu punya pacar sehabis itu (puji Tuhan hahaha). Perasaan ini terus berlanjut sampai aku datang ke US (bahkan sampai sekitar 3-4 bulan lalu)
Puji Tuhan selama aku di US, Tuhan selalu bimbing aku di jalanNya. Dia nggak pernah meninggalkan aku sekalipun. Bahkan aku nggak perlu mencari-cari cinta disini sebab aku merasakan cinta dari teman-teman seimanku di sini, di PD (Persekutuan Doa) Moses terutama. Gimanapun juga namanya bolong dalam hati ini masih tetep ada. Sesering dan sebanyak apapun cinta yang aku dapatkan dari teman-teman dan pacar-pacar (Eh… maksudnya pacar), aku masih aja ngerasa something is missing. Kebolongan itu Tuhan tunjukkan 2 taon belakangan ini dan aku nggak tau gimana caranya nutupin bolong itu.
Tuhan kerjanya luar biasa! November 2007, Chanuka datang ke Los Angeles dari Portland. Terus aku tanya dia, “Chan, gimana caranya untuk nggak merasakan kekurangan cinta terus?” Chanuka dengan gampangnya dia jawab pertanyaanku, “Then start giving love.” Wow… that’s it? Cuman itu doang? Keliatannya gampang, tapi man… susah dijalaninya. Pertama-tama… aku pikir-pikir lagi, lho wong aku ini kekurangan cinta… kenapa aku yang harus beri cinta? Binunnnn… Tapi aku bawa jawaban Chanuka itu ke dalam doaku tiap malam. Aku minta bantuan Tuhan untuk memberi aku kekuatan agar aku bisa memberi cinta itu. Aku bilang, “Tuhan, aku mau memberi cintaku kepada orang laen, tapi ntar ganti ya cinta yang aku beri ke orang laen ini dengan cintaMu.” Cuman dengan modal itu aku berjalan dan memberi cinta kepada orang laen yang membenci aku, yang memusuhi aku, dan terutama kepada orang tuaku. Tiga sampe empat bulan yang lalu Tuhan tunjukkan bahwa Dia sudah tembel bolong di hatiku ini. Dia sudah sembuhkan lukanya. Bahkan Dia beri cintaNya yang begitu besar, begitu mengalir deras dan meluap-luap di hatiku. Tuhan sudah sembuhkan aku. Dia mengabulkan doaku, mengganti cintaku dengan cintaNya dihatiku. Dengan cintaNya, aku tidak merasa kekurangan lagi.![]()
May 14, 2008
Kuasa Cinta Tuhan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment