Satu hari ada seorang saudara dalam Tuhan yang nanya, “Clubbing dosa nggak sih?” Gue jawab sambil becanda, “Yah tergantung, kalo ke club berenang, ke club fitness, ke club golf, yah sehat nggak apa-apalah...”
Daud dulu kalo menari di depan tabernakel (peti tempat tabut perjanjian Allah) untuk mempersembahkan bait Allah bisa sampe berhari-hari lamanya (2 Sam 6:14-16). Gue orangnya juga bisa “hyper”, tapi kalo suruh joget tiga hari, gue yakin baru jam keenam gue udah semaput dan bisa-bisa nerusin tariannya dalam mimpi sampe hari ketiga. Tari-tarian dalam Roh sepanjang sejarah bangsa Israel adalah bagian dari ekspresi puji-pujian mereka kepada Allah yang Mahatinggi. Sebagai bangsa yang lagi muter-muter di padang gurun yang nggak memiliki apa-apa, mereka mempersembahkan harta milik mereka yang paling berharga buat Tuhan, hati mereka. Nyanyian, sorak-sorai, dan tari-tarian di dalam Roh, adalah bentuk korban pujian yang tak dapat dipisahkan dari dalam kehidupan mereka. Menari dalam Roh adalah salahsatu bagian dari pujian-pujian yang hidup. Itulah cara mereka untuk melepaskan semua beban kehidupan sehingga mereka bisa meneruskan hidup mereka dengan enteng dan tanpa beban. Saat mereka terhimpit, di situlah saat mereka datang kepada Yahweh sang sumber sukacita mereka. Saat mereka datang ke hadapan Yahweh dengan membawa korban pujian, nyanyian, tarian, dan sorak-sorai, di saat itulah Allah Israel memberikan kelegaan kepada mereka.
Janji itu masih diteruskan dan digenapi saat Allah menjadi daging di dalam pribadi yang kedua dari Tritunggal Mahakudus, “Datanglah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu” (Mat 11:28).
Cyan, anak gue yang umur enam tahun sekarang ngambil kelas sepakbola. Kalo teamnya lagi cetak gol, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Tiap hari Jumat, gue bikin itu hari “jajan” dia di Seven Eleven, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Kalo gue lagi pulang kerja dan Cyan menyambut, wuaaah, seru bener loncat-loncatnya. Firman Tuhan berkata, “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamNya” (Mark 10:15).
Hati seorang anak kecil nggak akan mikir dua kali untuk merayakan sesuatu. Hati seorang anak kecil nggak akan mikir dua kali untuk lari ke bokapnya minta tolong. Hati seorang anak kecil begitu lepas dan bebas. Kalo kita ingin mengambil bagian di dalam Surga, hati seperti itulah yang Tuhan mau untuk ada di dalam kita.
Bahkan sampe hari ini, kakak sulung kita, bangsa Israel, orang Yahudi, setiap kali kumpul-kumpul untuk merayakan sesuatu sambil makan-makan bersama keluarga dan kawan, mereka begitu entengnya untuk menari sambil diiringin lagu-lagu dari kitab Mazmur dengan irama timur tengah. Gue tahu hal ini soalnya gue pernah diundang bos gue yang dulu ke perayaan bar dan bat mitzvah mereka (perayaan seorang anak kecil yang mulai masuk ke umur dewasa).
Tari-tarian, sama seperti nyanyian dan sorak-sorai, adalah salahsatu bentuk pujian yang ampuh di dalam perjalanan bangsa Israel. Itu menjadi salahsatu senjata rohani mereka di dalam menjalani perjalanan iman. Saat Injil diwartakan ke bangsa-bangsa bukan Yahudi, budaya tari-tarian di dalam Roh ini mengalami bentrokan identitas. Bangsa Yunani misalnya, mereka juga hyper untuk joget untuk melupakan himpitan kehidupan mereka. Persamaannya berhenti di situ. Sekilas emang sama-sama joget, tapi saat digali ke sisi yang paling dalam di hati, terjadi perbedaan yang besar.
Saat intensi joget itu dikeluarkan dari konteks puji-pujian kepada Allah, maka yang terjadi adalah bencana. Jangankan bangsa Yunani, bahkan bangsa Israel sendiri saat mereka menyembah lembu emas, mereka jadinya ancur-ancuran (Kel 32). Bangsa Israel saat itu terbagi dua. Di satu sisi adalah mereka yang joget gila-gilaan mabuk-mabukan sambil pesta seks dan orgy. Di pihak lain adalah mereka yang masih setia kepada Tuhan yang menahan diri untuk bergabung dalam perbuatan itu. Waktu Musa turun gunung dan melihat hal ini terjadi, sedihlah hatinya dan dia melempar loh batu sepuluh perintah Allah di tangannya untuk menghancurkan lembu emas itu. Dia pisahkan kedua golongan bangsa Israel itu di dua sisi. Firman Tuhan mengatakan bahwa bumi terbuka dan menelan mereka yang tercebur di dalam tari-tarian yang mabuk dan gila itu. Mereka yang bisa menahan diri dibiarkan hidup walaupun akhirnya muter-muter di padang gurun selama 40 tahun.
Nah, waktu Injil diwartakan keluar bangsa-bangsa bukan Yahudi, hal inilah yang terulang lagi. Bangsa Yunani saat joget untuk melupakan himpitan hidup mereka, joget yang mereka lakukan adalah joget lembu emas yang disertai mabuk-mabukan, ngobat biar high, dan pesta seks gila-gilaan. Contohnya pas di Pompei yang akhirnya ditelan ama letusan Gunung Vesuvius, para ahli sejarah menemukan bahwa salahsatu aturan pesta orang Yunani adalah mereka nggak boleh taruh gelas minuman mereka. Gelas harus terus dipegang, begitu kosong, diisi lagi dengan alkohol. Pesta berlanjut berhari-hari disertai dengan permainan orgy yang tak habis-habis. Pada akhir dari pesta itu, semua orang tergeletak, pingsan, mabok, atau teler.
Obrollers, saat seorang bayi menangis, kita bisa lakukan dua hal. Kita bisa pasang musik kenceng-kenceng sampe satu titik tangisan bayi itu nggak kedengeran lagi sehingga kita bisa melupakan bunyi tangisan itu. Atau, kita bisa mencintai bayi itu dan melihat apa yang membuatnya menangis sehingga saat penyebab tangisannya diatasi, maka tangisan itu berhenti.
Seperti bayi itu, hati manusia sering menangis karena terluka oleh duri-duri kehidupan yang tersebar di mana-mana. Lalu apa yang kita lakukan? Apakah kita akhirnya berusaha membuat kebisingan yang luar biasa sehingga kita boleh “mengubur” suara tangis itu? Atau kita melihat apa yang menjadi jeritan hati kita dan datang kepada Sang Tabib di atas segala Tabib untuk disembuhkan dari luka kita?
Intensi. Intensi di belakang tari-tarian itulah yang membuat perbedaan antara apakah kita akan “ditelan bumi” atau kita boleh menemukan kehidupan. Apakah kita menceburkan diri ke atmosfir joget yang disertai alkohol, gerombolan manusia yang mempunyai konotasi seks yang disertai dengan lagu-lagu yang kata-katanya juga berlawanan dengan nilai-nilai kehidupan yang Tuhan ajarkan lewat FirmanNya?
Ataukah kita menceburkan diri ke atmosfir joget dalam Roh di mana tarian yang terjadi adalah ekspresi bahwa sukacita yang terjadi di dalamku adalah sukacita Allah yang boleh menyembuhkan luka-luka hatiku?
Joget adalah karunia Allah. Bahkan Yesus sendiri adalah “Lord of the Dance” buat gue. Bahkan di dalam gerakan di Los Angeles, Tuhan juga memberikan tarian dalam Roh di saat-saat yang vital. Hari keempat retreat Mei 1999, Tuhan berikan tari-tarian dalam Roh dan di situ Tuhan menyampaikan pesan bahwa kebangunan rohani sudah terjadi. Hari ketiga retreat Mei 2000, limapuluh orang boleh menari lebih sambil muter-muter ruangan merayakan Allah dan Tuhan menunjukkan awal ledakan yang nyata dari kebangunan rohani di daerah Los Angeles.
Di dalam kehidupan gue sendiri, saat jiwa gue terhimpit beban berat, salahsatu pelarian gue adalah tari-tarian di dalam Roh. Gue pasang lagu rohani dan gue menari buat Tuhan sambil memuji-muji namaNya di dalam hati gue sampe kepahitan hati itu digantikan dengan sorak-sorai kemenangan.
Bahkan di saat yang paling vital di dalam perjalanan iman gue, Januari 2008, setelah menari di dalam Roh bersama saudara-saudara di dalam Kasih lebih dari sejam sampe lutut gue gemeteran, kaki sempoyongan, dan keringetan kayak disiram air seember, Tuhan boleh membiarkan gue menulis di dalam journal rohani setelah selesai tarian itu dengan pengertian yang jelas apa misi gue dalam hidup ini dan kapan itu akan terjadi. Sambil berlinang airmata, tangan gemeteran, dan hati yang teguh, gue berterimakasih atas pengertian itu. Lewat pengertian itu, gue mengerti jalan mana yang gue harus lalui.
Menari dalam Roh adalah salahsatu bentuk doa. Satu hari nanti gue yakin Tuhan akan beri kita kesempatan untuk menari dalam Tuhan bersama-sama untuk merayakan kasihNya. Gue demen joget? Buat Tuhan dan di dalam Tuhan? Oh Amen!
Jadi, clubbing dosa nggak? Dosa atau nggak, itu bukan keputusan gue. Hanya Allah yang sanggup mengatakan kalo sesuatu itu berdosa atau tidak. Tapi gue jamin satu hal, saat di dalam hatimu ada kerinduan untuk clubbing, ketahuilah bahwa jawaban sebenarnya yang sedang dirindukan hatimu nggak akan dapat ditemui di tempat itu.
Bro Chan![]()
May 13, 2008
Joget
Labels:
Pertumbuhan Iman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

6 comments:
Nicely written bro...
I am thinking to write similar thing these days.
Once we taste the genuine Love of God we don't want the fake one. God's love heals...the fake one doesn't
btw :
Congrats..buat menangnya Manchester United dan dengan berat hati saya mengucapkan selamat juga pada Lakers yang beat Jazz 4-2 ( mudah2an lu udah nonton rekamannya :) )
Till next year Kobe dkk!
Hidup Liverpool dan Jazz :)!~
In His Love,
Ernest Basarah
HUAHAHAHAHAHA............ Kita emang satu roh, tapi kalo soal Lakers and Manchester United, ternyata emang kita berbeda dari sononya hehehe.... Go Lakers, go MU, Go Brazil!
Terus berjuang bro buat kemuliaan Tuhan. Kita serbu dan kita rebut daerah yang menjadi milik Kerajaan Allah. Hallelujah!
Well explained, Chan! Well explained!
I cannot agree more w/ your very last sentence. Gw pelajari kebenarannya dlm kehidupan saudara/i kita yg dulunya bergaul akrab dgn dunia itu... bahwa at the end of the season, tempat itu hanyalah tempat pelarian, bukan tempat berlabuh.
Btw, gw minta ijin ya tuk nyebarin tulisan loe ini ke milist lain.
Go Lakers!! Go David Cook!! *lohh ;)*
~v~
How come ya Dit..?? bikin geleng-2 aja tulisan2mu itu.. GBU & c u on August - mb' nez
Hallelujah Von, puji Tuhan. Silakan aja kalo tulisan ini mau dimuat di milis lain, biar nama Tuhan dimuliakan.
Tolong kasih link balik ke www.warungsurgawi.com. Tuhan kasih misi dan arah yang jelas buat Warung Surgawi kita, karena itu tolong bantuin promosiin link ini supaya semakin banyak orang Indo yang kita jala buat Tuhan.
Thanks Von
Mbak Nez, yo opo kabare? Yo uwis puji syukur kepada Tuhan tulisan iki dadi berkat gawe sing moco. Wis kangen bubur kacang ijo ambek tempe malang iki. OK Mbak sampe ketemu... GBU2
Post a Comment