Apr 14, 2008

Doa Sejam?

Satu malem di tahun 2000 abis selesai Persekutuan Doa (PD) Hallelujah di Hacienda Heights, ada satu saudara seiman dari Gereja tetangga datengin gue. Karena dia tahu bahwa gue yang melayani di komunitas itu, dia nanya dengan setengah becanda tapi juga setengah nantang, “Chanuka, you doa sehari berapa jam sekarang?” Gue yang denger pertanyaan klasik ini senyum dan doa dalam hati supaya kelemahlembutan Tuhan aja yang terpancar dari kata-kata dan hati gue saat menjawab pertanyaan itu. Dia nerusin ngomong, “Gue sendiri hari ini baru berdoa dua setengah jam sambil sejam puji-pujian memuji Tuhan.” Gue jawab singkat dengan senyum, “Puji Tuhan.”

Abis itu hening dan dia ngeliatin gue nunggu jawaban. Gue pandang dia dengan nyantai tapi jawab dengan nada serius, “Dengan rendah hati, gue sedang belajar dan berusaha untuk bisa doa 24 jam.” Dengan muka kaget, dia angguk-angguk sambil angkat jempol dan tepuk-tepuk bahu gue. Jangankan dia, gue aja kaget denger jawaban gue sendiri. Gue tahu puluhan Firman Tuhan yang bilang gitu dan emang sungguh itu yang gue ingini, tapi gue harus jujur jawaban itu nggak kepikir sampe satu detik sebelum bener-bener keluar dari mulut gue. Gue yakin Roh Kudus yang bekerja detik itu untuk mengajar dia, tapi lebih-lebih lagi untuk mengajar dan mengingatkan gue sendiri manusia yang lemah dan berdosa ini.

”Berdoalah SETIAP WAKTU di dalam Roh” (Ef 6:18)

Banyak dari kita yang udah sering denger anjuran bahwa untuk mereka yang pelayanan untuk bisa berdoa sejam sehari. Gue setuju hal itu. Banyak dari kita yang juga bingung gimana caranya doa sejam, limabelas menit aja udah ketiduran apalagi sejam. Gue juga setuju akan hal itu. Tapi yang lebih-lebih gue setuju adalah doa yang tak pernah putus, doa 24 jam seperti yang dikatakan Paulus di atas. Biarlah di mana kita berada, apakah bangun tidur kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi yang diteruskan dengan menolong ibu membersihkan tempat tidurku, atau lagi nyetir, makan, main golf, lari pagi, nongkrong, duduk hening 2-3 jam di depan Sakramen Mahakudus, baca alkitab, cuci baju, masak, lagi terbuai di alam mimpi pas lagi tidur, dsb, dsb, biarlah kita boleh terus berkomunikasi dengan Tuhan. Tahukan kita bahwa menurut ilmu medis, bahkan saat kita tidurpun otak kita tak pernah berhenti bekerja? Kalo bagian badan fisik kita ada yang nggak pernah tidur, ketahuilah Obrollers, roh kita pun lebih-lebih lagi tak pernah tertidur. Dan yang lebih dari itu, penjagaan Allah atas kitapun tak pernah tertidur ataupun terlelap (Mzm 121:4). Kalo roh kita nggak pernah tidur dan Allah sendiripun selalu bangun menjaga, di manakah roh kita selama 24 jam sehari? Apakah hanya satu, dua, atau tiga jam berhubungan dengan Allah? Ataukah sungguh roh kita lewat setiap hembusan nafas dan setiap detakan jantung ini boleh terus mengatakan “I love You Lord” kepada Dia yang sudah mencintai kita terlebih dahulu?

Gimana sih caranya doa sejam kalo 15 menit aja udah terkantuk-kantuk? Untuk menjawab hal itu kita mulai dengan pertanyaan, apa sih doa itu? Doa adalah ngobrol ama Tuhan. Tapi karena lawan bicara kita adalah Sang Mahatahu, maka jenis obrolannya sedikit berbeda. Obrolan dengan Dia yang mengetahui isi hati kita yang paling dalam tidak memerlukan satu katapun. Jenis obrolannya adalah hati ke hati.

Yesus pandang diriku, dan aku balas tatapan manisNya dan semua curhatku Dia mengerti. Hatiku memandang Dia dan di dalam keheningan aku berbicara tanpa kata dan juga mendengarkan tanpa bicara. Berbicara hanya melalui tatapan dan mendengar hanya melalui anggukan. Tak ada bunyi, sunyi, sepi, tapi Dia mengerti diriku dan aku mengerti diriNya.

Itulah doa.

Bayangkan dua kekasih yang lagi jatuh cinta. Ngobrol rasanya nggak pernah cukup. Sejam atau dua jam rasanya baru introduksi. Ngobrol tiga sampe empat jam rasanya baru selesai pokok pikiran yang pertama. Kalo nggak bisa telepon, nggak bisa ketemu, rasa hati senut-senut. Rasanya pengen bareng terus nggak mau pisah. Esok hari rasanya seperti bulan depan. Seminggu nggak ketemu rasanya seperti setahun. Setahun rasanya seperti seumur hidup. Kalo sampe harus terpisah seumur hidup rasanya lebih baik mati. Yesuslah kekasih jiwa kita. Ngobrol sejam ama kekasih? Wah itu sih sesuatu yang tak terasa, sangat mudah, bahkan malah kurang lama dan maunya lebih dari cuma sejam.

Itulah doa.

Saat kita kenal siapa sesungguhnya Tuhan itu, maka tak ada hal lain yang mungkin terjadi selain cinta yang membara karena dialah Sang Cinta itu sendiri. Cinta yang membara akan menghasilkan kehidupan doa yang membara pula. Buat Obrollers yang baca obrolan ini ada 4 kemungkinan, kehidupan doa kalian emang udah membara dan obrolan ini jadi konfirmasi, kehidupan doa kalian seret dan obrolan ini jadi penunjuk jalan, yang ketiga, lu beneran bingung dan nggak nyambung dengan apa yang gue omongin, atau yang keempat, ada perasaan pahit di dalam hatimu saat baca obrolan ini. Buat yang udah mempunyai kehidupan doa yang membara, puji Tuhan, teruskan sampai doa itu tak terputus menjadi doa 24 jam. Buat yang memelihara kehidupan doa yang udah membara, kontak-kontak warung kita oke, jadi kita bisa saling cerita dan ngobrol lebih lanjut. Buat yang kehidupan doanya masih seret, buka hatimu minta Roh Kudus untuk sekali lagi memperkenalkan siapa Allah itu. Cinta yang membara nggak bisa dipaksa. Cinta yang membara hanya dapat lahir dari pengenalan akan Tuhan. Buat yang nggak ngerti dan bingung kenapa gue ngomongin doa tapi kok pake cinta-cintaan gini, itu berarti Tuhan sedang mengundang kehidupan doamu dari kepala untuk turun ke hati. Tuhan meletakkan panggilanNya di hati dan mulut kita (Ul 30:14). Buat yang baca obrolan ini tapi terasa pahit di hati, itu menunjukkan bahwa di dalam hatimu, engkau masih terluka oleh cinta dan pernah dikecewakan oleh rasa sayang.

Di manapun kehidupan doa kita, ketahuilah Tuhan mempunyai rencana yang indah di dalam kehidupan kita masing-masing. Biarlah kita boleh jatuh cinta kepada Yesus sebagai yang pertama dan utama sehingga kelimpahan kasih dariNya di dalam hati kita boleh melanda orang-orang yang ada di sekitar kita.

Itulah doa gue. Amen!

Bro Chan

Bookmark and Share

0 comments: