Betapa bersyukurnya kita akan ban serep . . . kalo ban kita lagi kempes. Kalo mobil lagi ok ok aja, ada kalanya sering kita nggak inget betapa berharganya ban serep.
Betapa bersyukurnya kita akan kotak obat. Waktu dengkul lagi bonyok abis maen bola, tensoplas dan betadine sudah tersedia. Tapi kalo dengkul lagi ok ok aja, yah nggak ingetlah akan gunanya kotak obat.
Obrollers, betapa seringnya kehidupan doa kita juga seperti itu. Kalo roda kehidupan kita lagi kempes atau kita lagi nabrak tembok dan benjol di dalam perjalanan hidup ini, barulah kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan inget akan Tuhan. Kalo semua lagi ok ok aja, yah doa pagi, doa sebelum makan, doa malem, seminggu sekali ikutan care group atau persekutuan doa cukup lah. Yesus jadi ban serep dan jadi tensoplas di dalam kehidupan kita, baru dipake kalo lagi kepepet.
Kita bersyukur bahwa Yesus sungguh bisa jadi ban serep, tensoplas, atau betadine kalo diperlukan, tapi Dia rindu untuk hadir di dalam kehidupan kita jauh lebih dari itu. Dia rindu untuk hadir di dalam kehidupan kita bukan karena Dia butuh perhatian kita. Allah kita adalah segalanya, Alfa dan Omega, Yang Awal dan Akhir (Why 22:13). Dia ada sebelum semuanya dijadikan dan Dia tetap ada setelah semuanya berlalu. Dia nggak butuh apa-apa. Dia nggak butuh perhatian kita. Tetapi Allah tahu bahwa tanpa diriNya, kita hanya sekedar debu belaka. Karena saat nafas Allah berhembus di dalam kita (Kej 2:7), hanya di saat itulah maka kita bisa mengalami kehidupan yang penuh dan yang sebenarnya. Jadi bukan Allah yang butuh doa kita tapi kitalah yang membutuhkan doa itu, karena tanpa doa maka hubungan kita dengan Sang Kehidupan menjadi terputus. Dan saat ranting anggur itu terlepas dari batang pohonnya, maka ranting itu akan mati dan menjadi kering (Yoh 15:6).
Tunjukkan kepada gue komunitas atau seseorang yang hidup doanya tipis, maka gue bisa tunjukkan komunitas atau seseorang yang api kehidupannya pun pasti redup. Hidup serasa mendung terus, rasa hati bete dan pengennya cemberut terus, sinar matanya sendu, kehidupan serasa dibungkus dengan rasa ketakutan, takut ini takut itu, entar kalo gini gimana, kalo gitu gimana, dingin dan kaku, bergerak rasanya susah, nafas rasanya sesek terus, hidup rasanya cuma hal jelek-jelek aja yang terjadi, itulah suasana yang meliputi hati yang api kehidupannya redup. Hal yang dapat membuatnya tersenyum adalah hal-hal yang berasal dari luar, main video game, shopping gila-gilaan, ke bar mabok, atau hampir mabok, ke club joget-jogetan untuk melupakan sendunya hati dengan kebisingan yang luar biasa, nonton film.
Paus Benediktus XVI saat Misa Rabu Abu 2008 menunjukkan bahwa doa adalah satu-satunya hal yang membuat kita terbuka kepada Allah. Tanpa doa, tidak akan ada harapan, hanya ilusi yang membuat kita melarikan diri dari kenyataan.
Yesus rindu agar kita mengundang dia untuk menjadi nafas dan detak jantung kita. Di mana tanpa kedua hal tadi, kita hanya dapat hidup beberapa menit lamanya. Dia rindu undangan kita karena Dia menghargai kehendak bebas kita. Saat kita katakan “ya” maka dia akan masuk dan membuat kehidupan kita menjadi penuh.
Komunitas atau seseorang yang kehidupan doanya berkobar-kobar, dari dalam dirinya akan memancar api kehidupan yang bersinar pula. Walaupun dunia mau semendung apapun, hatinya tetap tersenyum dan menyala karena hal-hal yang membuatnya gembira semua berasal dari dalam hati. Saat dia lihat orang di kiri dan kanannya, yang dia ingin katakan selalu adalah, “Aku mengasihimu.” Cinta mengalir dengan deras dari dalam hatinya. Hal kecil seperti bunga yang mekar dan ayam yang menetas membuat hatinya melonjak kegirangan akan kesempatan yang Tuhan beri untuk melihat mujizat penciptaan. Saat orang lain boleh tersenyum akan perbuatan kasih yang dilakukannya, hatinya bergirang dan bersorak-sorai karena Tuhan. Setiap halangan di kehidupannya dijadikan menjadi kesempatan untuk terbang lebih tinggi lagi bersama Tuhan. Semakin dia berlari, semakin segar, dia berjalan dan tak pernah mengenal lelah. Dia adalah pohon yang ditanam di sebelah sungai Tuhan, yang tak pernah kekeringan di musim kemarau.
Mother Theresa pernah menyatakan bahwa Tuhan Yesus nggak akan bisa menyamar dari dia. Walaupun Mother Theresa ketemu ama orang miskin yang paling jelek dan bau pun, dia tetap akan cintai orang miskin itu karena Yesus sedang bersembunyi di balik diri orang itu. Sehingga buat Mother Theresa, orang miskin itu tidak jelek dan bau tetapi indah dan harum karena buat dia orang miskin itu adalah Yesus yang sedang menyamar.
Gimana api kehidupan di dalam kita? Apakah berkobar dan bersinar? Ataukah redup bahkan udah mati? Kembalilah, kembalilah tancapkan dirimu ke pokok anggur, Sang Kehidupan itu sendiri. Biarlah kehidupanmu bersinar lagi. Bagaimana orang-orang di sekitarmu, teman, pacar, tunangan, istri, suami, atau anakmu, apakah mereka boleh tersenyum sukacita saat kita ada di dekat mereka karena api kehidupan kita boleh nyamber ke orang-orang ini? Atau sebaliknya?
Kembalilah, kembalilah ke dalam pelukan Tuhan melalui doa. Ketahuilah janjinya, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya (Yes 42:3). Dia akan menerimamu. Dia udah janji, “...barangsiapa datang kepadaKu tidak akan kubuang” (Yoh 6:37). Dia rindu padamu. Dia hadir saat ini dan menunggumu untuk mengundang dia sekali lagi.
Bro Chan
_____
Cuplikan kotbah Paus Benediktus XVI saat Misa Rabu Abu 2008:
“Christ’s prayer on the Cross shows us a person abandoned by all entrusts himself completely in God. Lent teaches us to experience God as the only anchor of Salvation. True prayer is a dialogue with God, and without this our interior dialogue becomes a monologue, giving rise to thousands of self-justifications. Prayer, therefore, is a guarantee of being open to others. True prayer is the engine of the world, because it keeps us open to God. Without prayer, there is not hope, just illusion, which induces us to escape from reality.”![]()
Apr 24, 2008
Ban Serep
Labels:
Renungan Pengajaran
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment