Dec 23, 2008

Sibuk Pelayanan Bukan Mau Tuhan


Oleh: Tina

Setiap tanggal 29 Juli gereja Katolik memperingati hari raya Santa Marta, saudara dari Maria dan Lazarus. Di Lukas 10:38-42 diceritakan Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta. Marta sibuk melayani Yesus sedangkan Maria sibuk mendengarkan perkataan Yesus. Lalu Marta meminta Yesus untuk menyuruh Maria untuk membantu Martha. Tapi Yesus berkata, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Lukas 10: 41 -42).

Dari perikop di atas, aku diingatkan akan perjalananku melayani Yesus. Selain melayani di PD (Persekutuan Doa) aku juga sering berpartisipasi di kegiatan-kegiatan Mudika, misalnya memberi makan saudara-saudara kita yang tidak punya rumah, sortir makanan untuk dibagikan ke orang-orang yang berkekurangan, atau sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman untuk saling membagikan berkat Tuhan yang sudah kita terima. Tujuan aku melakukan itu semua karena aku ingin melayani Tuhan dalam bentuk nyata, seperti Marta yang melayani Tuhan dengan menyiapkan makanan dan minuman untuk Yesus.

Banyak orang yang terjebak dalam pelayanan. Mereka sibuk melayani Tuhan di Gereja, di lingkungan, di PD, dan lain-lain, sampai akhirnya mereka tidak punya waktu untuk Tuhan, keluarga, dan diri mereka sendiri. Hal inilah yang aku alami. Karena kesibukan-kesibukanku itu, aku jadi gak punya waktu untuk belajar, bikin PR, meluangkan waktu untuk keluarga, bahkan kadang aku pun gak sempet untuk berdoa.

Adalah mungkin buat seseorang untuk mengerjakan banyak pekerjaan Tuhan, tanpa mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan sendiri. Di Matius 7:22-23 Tuhan berkata, “Pada hari terkahir banyak orang akan berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Dari ayat-ayat itu Yesus menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mengenal Yesus, mendengarkan ajaran-ajaran-Nya dan punya hubungan yang dekat dengan-Nya.

Di salah satu retreat, Father Gino Henriques mengajarkan dari keheningan timbul doa, dari doa yang berkualitas timbul iman. Dari iman, timbul kasih, dan dari kasih timbul pelayanan pada orang lain. Jadi pelayanan kita pada orang lain adalah buah dari kasih. Tanpa doa, orang lain mendapatkan pelayanan dari kita tanpa kasih. Doa, dimana dalam doa kita membina hubungan kita dengan Tuhan, adalah dasar dari pelayanan kita buat Tuhan.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati agar tidak terjebak oleh kesibukan-kesibukan pelayanan.Yang paling penting adalah kita mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus, seperti Maria saudara Marta yang setia mendengarkan ajaran Yesus. Pelayanan akan timbul dengan sendirinya sebagai wujud rasa cinta kita pada Yesus. Selamat melayani!

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 27, 2008

Lewat Kelemahanku Kekuatan Bapa Sempurna


Oleh: Tante Erlina

Bersyukur
Sujud didepan AltarNya
Memuji menyembah
Hanya itu yang dapat kulakukan

Sejak kecil Bapaku telah menaruh Roh Allah di hatiku
Di mana aku dapat mengadu menangis tertawa
Berdebat bercanda kekecewaan putus asa
Dalam menghadapi kehidupan ini

Saat rambutku telah memutih kulitku telah mengkerut
Badanku mulai lemah
Aku terus merasakan kekuatan tangan Bapaku
Yang selalu menuntunku sejak aku dilahirkan ibuku

Disaat aku sakit
Di situlah aku merasakan
Pintu tobat telah dibukakan Bapaku
Lebar-lebar untukku

Di saat itulah
Aku benar-benar dekat dengan Bapaku
Mensyukuri
Apapun yang Bapaku ajarkan

Aku takut... aku takut mati
Aku menangis memohon pada Bapaku bagai anak kecil
Bapaku tak pernah menolak pengampunanNya sangat besar
Ditariknya lagi tanganku untuk bangkit

Dikuatkannya lagi jiwaku
Untuk tugas yang Bapaku berikan
Bersyukurlah aku Bapaku telah mengajariku
Dengan kelemahanku kekuatan Bapaku menjadi sempurna di hatiku

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 22, 2008

Kemarahan


Oleh: Tina

Beberapa minggu lalu, aku membaca renungan yang ditulis oleh Theophan the Recluse tentang salah satu dosa utama manusia, yaitu kemarahan. Puji Tuhan, aku jadi lebih tahu lagi apa itu kemarahan, dan bagaimana cara iblis menggunakan rasa marah supaya manusia berbuat dosa.

Kemarahan adalah suatu emosi. Tidak ada yang salah dari emosi itu tapi kalau emosi itu tidak terkontrol oleh rasa tidak suka, lama-lama emosi itu bisa berkembang menjadi rasa benci dan bisa menjadi salah satu dari 7 dosa pokok. Menurut Katekismus Gereja Katolik no. 1765, kemarahan adalah keinginan untuk membalas dendam dengan melakukan perbuatan jahat kepada seseorang yang pantas untuk dihukum adalah bertentangan dengan hukum. Yesus berkata,“…setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum…” (Matius 5: 22)

Dua cara yang paling sering digunakan iblis untuk menggoda manusia adalah lewat nafsu dan rasa marah. Jika kita tidak tergoda oleh nafsu, maka iblis mulai untuk membuat kita marah lewat hal-hal yang ada di sekeliling kita. Kalau kita tidak bisa membedakan godaan iblis, maka manusia mulai cepat marah pada semua yang ada di sekeliling kita. Dengan begini kita mengijinkan kemarahan untuk menguasai kita, dan memberi tempat untuk iblis. Tetapi kalau kita berhasil untuk melawan godaan untuk marah dan mengusir iblis, kita tidak memberi tempat bagi iblis untuk bersemayam di dalam kita.

Pada saat kita marah, kita memberi tempat bagi iblis untuk bersemayam di dalam diri kita. Pada saat iblis sudah berada di dalam diri kita, dia mulai memberikan pikiran-pikiran yang buruk, atau memanas-manasi kita, sampai akhirnya kita dikuasai oleh api kemarahan. Api kemarahan ini adalah api yang berasal dari neraka, tapi pada saat kita marah kita merasa bahwa kita yang benar, dan orang lain salah. Sebenarnya kita tidak pernah benar di dalam kemarahan. Ini adalah ilusi yang ditimbulkan oleh iblis.

Aku juga pernah mengalami godaan ini. Suatu hari teman kerjaku menemukan dokumen yang aku taruh di tempat yang salah. Lalu dia langsung mengadu ke atasanku tentang kesalahanku dan dia nggak ngerti kenapa aku bisa seceroboh itu. Aku tahu atasanku nggak akan marah, karena hal ini bukan hal yang besar. Tapi aku nggak suka dengan cara teman kerjaku itu yang langsung mengadu ke atasanku.

Tiba-tiba aku mulai teringat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh teman kerjaku yang aku nggak pernah laporkan ke atasanku karena menurutku semua orang bisa berbuat salah; yang penting kita belajar dari kesalahan kita dan tidak mengulanginya lagi. Perlahan-lahan aku merasakan perubahan emosi, dari yang ceria, trus jadi sebel pas aku dengar temen kerjaku mengadu, terus jadi tambah sebel setelah aku ingat kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh teman kerjaku, sampai akhirnya aku bener-bener ingin mengadukan semua kesalahan-kesalahan teman kerjaku itu ke atasanku.

Puji Tuhan, hal itu terjadi setelah aku membaca renungan Theopan the Recluse ini. Jadi pada saat aku tiba-tiba ingat akan kesalahan-kesalahan teman kerjaku itu dan ingin sekali melaporkannya ke atasanku, aku tahu bahwa iblis sedang memanas-manasi aku supaya aku marah.

Lalu aku mulai berdoa singkat, mohon kekuatan dan bantuan dari Tuhan untuk mengusir si iblis. Pada saat kita marah, kita berada di frekuensi yang berbeda dengan Tuhan. Dengan berdoa atau mengucap syukur, kita yang sakan kembali ke frekuensi yang sama dengan Tuhan dan menjauh dari iblis. Puji Tuhan, setelah aku berdoa rasa marah ku itu mulai mereda sampai akhirnya hilang sama sekali.

Setelah kemarahan kita reda dan dengan pikiran jernih mulai menganalisa kejadian yang baru saja berlangsung dengan iman, biasanya kita tidak menemukan ada yang salah dari semuanya itu. Si iblis mengubah apa yang benar menjadi salah, sehingga kita merasa diri kita yang benar untuk membuat kita marah, dan selanjutnya berbuat dosa.

Jika karena kedagingan kita yang lemah kita menjadi marah pada seseorang dan berbuat dosa, St. Paulus berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan pada iblis.” (Efesus 4:26-27). Kita perlu minta bimbingan Roh Kudus agar kita bisa mengetahui pada saat iblis sedang menggoda kita untuk marah, sehingga kita bisa segera mengatasi rasa marah itu dan mengusir iblis.

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 20, 2008

Nyokap Mertua Dateng

Dengan kondisi istriku tercinta, gue bersyukur kalo nyokap mertua gue ada di Portland untuk 2 minggu ini. Kehadirannya bikin semua yang kita lalui jadi lebih mudah.

Pas dia dateng di airport, ada satu kopor kecil dan satu kopor gede. Kopor gedenya beraaat banget. Ini baju berat bener? Gitu yang terlintas di pikiran. Sampe rumah ternyata semua baju ada di kopor kecil dan kopor gedenya berisi... snack Indonesia dari Los Angeles. Berjejal-jejal itu marie regal, kue tok jawa timur, egg custard pie dari JJ bakery, bumbu-bumbu masak, cereal, dsb. Kayak kantong ajaib Pak Janggut yang isinya nggak abis-abis, begitulah waktu kita bongkar itu kopor gede yang berat banget.

Seorang ibu selalu teringat akan kepentingan anaknya. Luar biasa. Dan itulah yang dilakukan nyokap mertua gue. Kasih di dalam hatinya begitu nyata lewat perbuatannya. Gue bersyukur untuk kehadiran nyokap mertua gue. Lewat dia, Tuhan pelihara. Makasih Mami, makasih Tuhan! Amen!

Mujizat Cinta

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 17, 2008

Rapotan

Cyan libur karena ada Teacher’s Conference dan kita sebagai orangtua diundang untuk hadir. Terbayanglah di benak gue konferensi meja bundar di mana bakalan banyak orang berbondong-bondong untuk berdiskusi gimana caranya memajukan cara pendidikan di Amrik ini.

Gue nyampe kelas Cyan di sekolahan, lhooo, kok cuma ada guru ama satu pasang suami istri? Terus gue lihat jadwal, “Cyan Erdita, 1.20 pm.” Bener kok? OK deh, gue tunggu di luar karena gurunya emang minta. Terus begitu mereka kelar, gue masuk. Pertemuannya cuma 20 menit, dia ngomong mengenai kemajuan Cyan di sekolah.

Dalam hati gue ketawa, oh maksudnya “Teacher’s Conference” itu rapotan taaa?

Gue inget dulu kalo di SD gue duduk di luar sambil deg-degan nggak tahu si Pak Guru ngomong apa ke bonyok. Gue bakal dapet nilai 6, 7, 8, atau 4 nih? Bakal naik kelas atau nggak? Dsb dsb...

Waktu berjalan cepat dan ternyata gue yang jadi bokap-bokap sekarang untuk ambil raport anak gue, hehe. Tuhan baik. Di Amrik rapotan lain banget. Isinya adalah laporan kemajuan si anak dan hal-hal apa yang gue bisa bantu supaya anak gue bisa lebih maju lagi. Kita ngobrol-ngobrol tentang hobinya Cyan dan aktifitasnya kalo di rumah.

Gue ceritakan semua, Cyan demen lego dan sepak bola. Kalo ditanya sekarang kalo gede mau jadi apa, maunya jadi “Professional Soccer Player.” Luar biasa. Gue sih OK dan memberkati apa yang menjadi panggilannya selama itu bikin dia seneng. Siapa tahu bisa nonton Cyan maen di Manchester United... mantab!!!

Gue pulang dengan nostalgia dan syukur. Gue keingetan bokap gue yang begitu sabar ngurusin gue dulu. Sekarang giliran gue ngurusin anak gue. Sama sepert Bapa Surgawi yang begitu baik buatku, itulah yang gue rindukan saat gue jadi bokapnya Cyan.

Mujizat Cinta.

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 15, 2008

A Heartfelt Sharing from a Sister in Christ

Shalom Obrollers, gue mau bagiin satu kesaksian dari Rosa, istriku tercinta, "A Heartfelt Sharing from a Sister in Christ." Pake bahasa Inggris, jadi gue kasih linknya langsung ke BeaconsOfLight.net.

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 13, 2008

Bukan Untung Bukan Hoki

“Untung banget gue bisa __________”
“Tuh orang emang hokinya gede makanya __________”

Sering secara nggak sadar kita sebut semua hal yang baik dalam kehidupan kita sebagai keberuntungan, hoki, tennis, golf, lhooo... Kalo pas lagi bagus alasannya karena untung atau hoki. Tapi kalo lagi pas jelek atau “ketiban sial” alasannya “emang takdir gue” atau “kehendak Tuhan.” Seperti inikah perjalanan kehidupan kita, kadang naik kadang turun, serasa naik roller-coaster di Disneyland? Ataukah ada penjelasan lain yang dapat kita serap dari pengajaran iman kita?

Lho Chan, kan hidup itu kayak roda kehidupan? Kadang di atas kadang di bawah, jadi maklum dong. Kalo di atas berarti lagi untung, tapi kalo di bawah berarti lagi buntung. Plus satu digabung ama minus satu kan jadinya nol. Impas dong...

Sebelum kenal Tuhan cara mikir kayak gini masuk akal. Tapi saat kenal Tuhan, cara pandang seperti ini jadi di luar akal.

“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10b).

Apa yang Tuhan janjikan? Hidup BERKELIMPAHAN!

Apakah Tuhan pernah bilang bahwa saat kita ikut Dia maka kita akan kadang berkelimpahan, kadang berkekurangan, kadang naik, kadang turun? Ataukah janji Tuhan adalah hidup berkelimpahan, titik?

“Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan Allahmu...” (Ul 28:13).

Tuhan bahkan berkata dengan lebih spesifik lagi bahwa saat kita ikut Dia, maka kita akan jadi kepala dan bukan ekor, kita akan terus naik dan bukan turun. Gue keinget satu kata-kata seorang penginjil Katolik yang begitu menyentuh, “Buat orang-orang yang ikut Tuhan, apa yang dia pegang akan jadi BERKAT!” Oh Amen!

“Karena Engkau tidak mau menjadi hamba kepada Tuhan Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya, maka dengan menanggung lapar, dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh...” (Ul 28:47).

Saat Yesus sungguh-sungguh ada di dalam kita, maka yang dapat terjadi hanya satu, kehidupan yang berkelimpahan! Berkat Tuhan melimpah setiap saat, saat kita sadar atau tidak, kita ngerasa atau tidak. Dari Sabda ini, Tuhan ajarkan bahwa berkat berkelimpahan berasal dari Tuhan. Tetapi Tuhan juga ajarkan, perasaan sukacita dan terimakasih harus berasal dari siapa?

Dari kita!

Dengan kehendak bebas, kitalah yang membuat keputusan untuk mau berterimakasih dan bersukacita. Justru karena saat kita gagal untuk bersukacita dan berterimakasih, maka kita lapar, haus, telanjang, dan berkekurangan.

Tapi hidup gue “sial” mulu?

Di tengah kesialanmu dan “kebetean”mu, apakah berkat Tuhan masih berlimpah?

Kalo kita masih bisa baca obrolan ini, berarti kita masih bisa bernafas dan punya mata untuk melihat. Apakah itu berkat Tuhan? Kalo ada yang baca ini dengan kondisi mata yang buta, dan orang lain yang membacakan, bukankah itu berkat Tuhan bahwa ada orang lain yang masih bernafas dan punya mata yang mau menolong untuk bisa membacakan obrolan ini buatmu?

Perasaan ketiban sial, malang, buntung, bete, sebel, ombak, dongkol, mendung, semua itu adalah pekerjaan pikiran yang sedang mengkhianati kita. Kita sedang dirampok dari berkat Tuhan yang sedang mengalir. Ingat, berkat Tuhan SELALU berlimpah (Ul 28:47), tapi haruslah KITA yang memutuskan untuk berterimakasih dan bersukacita!

Jadi kalo ada dari kita yang saat ini lagi ngerasa sial, bukan Tuhan yang ngasih sial itu, Tuhan selalu kasih berkat. Itu janjiNya. Saat kita ngerasa lapar, haus, telanjang, dan berkekurangan, itu diakibatkan karena kegagalan kita sendiri untuk berterimakasih dan bersukacita untuk merayakan berkat Tuhan yang SEDANG berlimpah SEKARANG INI!

Saat ini, gue undang Obrollers untuk angkat satu hal di dalam hidupmu yang patut diterimakasihi. Katakan “Terimakasih Tuhan” dengan keras saat ini sambil bertepuk tangan.... silakan lakukan... gue tunggu.....

Apa yang terjadi dalam hati kita barusan? Kalo kita lakukan hal di atas dengan sepenuh hati, gue jamin, di dalam hatimu ada secercah cahaya saat ini. Itulah Terang Tuhan yang tadinya tertimbun dengan segala pikiran buruk yang boleh akhirnya terbuka saat kita putuskan untuk berterimakasih dan bersukacita.

Biarlah terimakasih dan sukacita ini boleh kita putuskan untuk menjadi nada doa hati kita selama 24 jam, bahkan di dalam mimpi sekalipun. Di sinilah kita menjadi umat pemenang!

Kalo lagi untung atau hoki, bilanglah, “Puji Tuhan. Terima kasih Tuhan untuk berkatMu!” Berikan kemuliaan hanya bagi Dia.

Kalo pikiran kita lagi mengelabui dan mikir bahwa hidup kita sial mulu, putuskan dengan kehendak bebasmu untuk mengingat berkat Tuhan yang sedang mengalir dan katakan, “Puji Tuhan. Terima kasih Tuhan untuk berkatMu!” Berikan kemuliaan hanya bagi Dia.

Bukan untung, bukan sial, bukan hoki, bukan buntung, tapi setiap detik dari kehidupan kita adalah BERKAT TUHAN YANG BERKELIMPAHAN!

Amen!

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 11, 2008

Terjadilah KehendakMu


Oleh: Ivana

Musim dingin 2004, aku dan Vincent pergi ke Mt. Pinos untuk main salju. Kita maen slide, bikin bola salju, makan siang di sana. Kita bareng dari pagi sampai siang. Tapi itu rencana awal. Hal yang nggak diinginkan terjadi. Waktu perjalanan ke mobil, Vincent cari-cari kunci mobilnya di kantong celana dan jaket. Kunci mobilnya nggak ada di kantong, begitu juga dengan telponnya. Kita berdua panik.

Lalu kita balik ke tempat main, cari... cari... tapi nggak ketemu. Kita pergi ke tempat sebelumnya, cari... dan cari... tetep nggak ketemu. Putus asa. Akhirnya kita memutuskan untuk telepon rumah. Kita pinjem telepon orang di sana untuk telepon keluarga Vincent untuk minta tolong dikirimin kunci serep. Puji Tuhan, Mt Pinos cuma dua jam dari rumah.

Baju basah karena salju, sepatu juga basah. Badan capek dan kedinginan. Perut lapar karena nggak terasa udah sore, langit mulai gelap. Orang-orang mulai berpulangan. Tinggallah kita berdua di tengah-tengah hutan. Gelap sekali nggak ada lampu jalanan, cuma lampu dari mobil-mobil yang turun dari atas gunung. Setelah nggak ada mobil lagi yang turun dari atas, jalanan yang tadinya indah berubah jadi menyeramkan. Saat itu aku hanya dapat berkata, “Oh Tuhan, terjadilah pada kami menurut kehendakMu.” Aku hanya bisa berpasrah kepada Tuhan saat itu.

Puji Tuhan, Dia tidak pernah meninggalkan ciptaanNya. Tuhan selalu ada dimanapun kita berada. Dia berikan kepada kita pemandangan yang sungguh indah malam itu. Langit yang begitu gelap dihiasi dengan banyaknya bintang di langit. Ditambah lagi, bulan yang bersinar terang banget saat itu menerangi hutan Mt Pinos. Pemandangan yang luar biasa ini nggak bisa kita dapatkan di kota yang dipenuhi polusi udara, mobil, dan gedung tinggi. Kegelapan yang menyeramkan itu tiba-tiba berubah menjadi malam yang indah buat kita berdua.

Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Papi dan maminya Vincent datang dengan bawa kunci serep. Tapi sebelum kita meninggalkan tempat itu, kita sempet cari lagi kunci mobil dan telepon Vincent. Puji Tuhan, dengan kekuatan doa kita menemukan kunci beserta teleponnya. Ternyata saat kita maen slide, kunci dan teleponnya jatuh bersamaan.

Malam itu adalah malam syukurku kepada Tuhan. Dia jaga aku dan Vincent di tengah hutan. Dia berikan penghiburan kepada kami. Kehendak Tuhan sungguh indah buat kita semua ciptaanNya. Di saat kita mempunyai masalah dalam hidup, tidak tahu kemana lagi akan pergi, berserahlah kepada Tuhan. Seperti yang ada di doa Bapa kami, “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga” (Mat 6:10). Dengan berserah kepada Tuhan, membiarkan Dia yang menjadi penulis hidup kita, maka Dia yang akan menuntun hidup kita. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Dia yang berkuasa untuk selama lamanya Amen!

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 9, 2008

Akhirnya Perut Berontak

Selama di Indo 3.5 minggu, gue selalu hati-hati dalam milih makanan supaya perut tetap sehat dan terus tersenyum untuk bisa menyantap daftar makanan yang ada di benak gue. Itu berhasil gue lakukan... sampe hari terakhir. Kita beli makan siang to-go. Makan di rumah. Perut mulai aneh. Badan mulai nggak enak. Gue kira gue kecapekan. Gue tidur. Ternyata pas bangun masih gitu. Malem makan dikit-dikit aja, yaaah, padahal makanannya enak banget, bebek panggang booo... Tapi perut rasanya aneh. Gue menahan diri, cieee... Besok siang pulang, mendingan nyantai aja.

Malem tidur gue nggak nyenyak, gue ke belakang sampe 6 kali dan muntah-muntah. Wah nggak bener nih. Perut yang tersenyum selama tiga minggu, sekarang tercaplok muntaber! Subuh gue ke Unit Gawat Darurat bareng bokap. Gue doa minta Tuhan menyertai perjalanan pulang ke Oregon dari Jakarta. Perjalanan masih panjang, udah gitu gue pake jaga anak pula.

Rawat diriku Tuhan, biarkan aku sampe di Portland dengan selamat. Tuhan sungguh dengarkan doa kita. Dia sungguh rawat gue... lewat Cyan, anak gue. Pas sebelum berangkat gue minta tolong, “Cyan, Papa perutnya lagi nggak enak, kamu tolong bantu papa yah...” Cyan jawab dengan sepenuh hati, “What do I have to do Papa?” (Apa yang aku bisa kerjakan Papa?). Gue senyum, “Jadi anak manis seperti kamu biasanya sayang...”

Selama perjalanan dia yang ingetin gue untuk minum obat. Kalo ada pramugari lewat bawa teh dia yang bilangin gue, “Papa, have some tea, it’s healthy for you” (Papa minum tehnya, itu sehat buat Papa).

Setiap kali dia tunjukkan rasa sayangnya ke bokapnya, gue elus kepalanya sambil doa terima kasih ama Tuhan. Cinta Allah begitu meluap-luap di dalam hati Cyan dan Tuhan boleh pake dia menjadi saluran cintaNya. Tuhan, tinggalah terus dalam hati Cyan dan biarlah dia boleh jadi berkat ke semua orang di sekitarnya. Makasih dia boleh kau kirim jadi anakku. Tolong aku untuk bisa jadi papa yang baik buat dia.

Jakarta, Taipei, Seattle, Portland, setelah sekitar 20 jam lebih, akhirnya kita tiba di rumah. Perut masih bergejolak sedikit, tapi hati lega dan bersyukur ama Tuhan. Perut mulai adem ayem, tapi mata gue yang berontak sekarang minta tidur di bantal yang udah nggak gue sentuh selama tiga minggu. Zzz, puji Tuhan... zzz... jet-lag....

“Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu” (Mzm 121:5).

Bro Chan

Bookmark and Share
Continue Reading......

Oct 7, 2008

Berkat Tuhan Yang Terbaik Buatku


Oleh: Ivana

Aku pengen banget cari kerjaan baru. Aku teringat ayat kitab suci yang mengatakan, “Mintalah maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Lalu aku memohon kepada Tuhan untuk kerjaan baru. Aku ngerasa sudah lebih dari cukup untuk kerja di perusahaanku yang lama ini. Tapi usaha untuk cari kerjaan juga tidak ada. Maklumlah, kemalasan! Resume aja masih belon siap-siap. Sampai akhirnya temenku Tina memberi semangat aku untuk membuat resume. Singkat kata, jadilah resume itu. Lalu aku mulai cari kerjaan.

Puji Tuhan, temen mamiku lagi ada lowongan kerjaan di kantornya. Aku percaya, Tuhan yang menyiapkan kerjaan itu. Nggak tunggu lama-lama lagi, aku langsung kirim resumenya. Eh… nggak lama dari hari aku kirim resume (2-3 hari), aku dapet telpon dari kantornya. Mereka buat schedule untuk interview. Puji Tuhan. Aku diinterview oleh 3 orang. (kalo keingetan moment itu, deg... deg... an). Puji Tuhan lagi. Tuhan menyertai aku kapanpun, dimanapun, dengan siapapun aku berada. Interview lancar-lancar saja.

Besok lusanya, aku ditelpon lagi dari kantornya untuk general check-up. Kerjaanku ini berhubungan dengan pasien-pasien yang sakit, jadi mereka harus yakin bahwa aku dalam kondisi yang sehat juga. Puji Tuhan, Tuhan itu sungguh baik. Dia tidak hanya memberkati dengan kerjaan, keluarga, teman-teman, tetapi Dia juga memberi kesehatan tubuh. Sehingga dengan tubuh yang sehat ini kita bisa terus memuji namaNya.

Proses melamar kerjaan ini sungguh di luar perhitungan. Kurang dari 2 minggu, aku sudah diterima di kerjaan baru. Puji Tuhan, Tuhan jawab doaku. Aku nggak nyangka akan secepat itu tapi aku yakin bahwa itu waktu yang sudah Tuhan tentukan buat aku. Aku sungguh berterimakasih atas berkat ini.

Terkadang, berkat itu datang tidak sesuai dengan waktu yang kita mau. Terkadang kita merasa bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa-doa kita. Terkadang pula, kita mendahului waktunya Tuhan. Tapi satu hal yang perlu kita tahu bahwa Tuhan kita selalu jawab setiap doa-doa kita. Matius 7:8 mengatakan, “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.” Tapi firman Tuhan nggak berhenti disitu saja. Banyak dari kita (termasuk aku dulu hehehe...) yang berhenti di ayat tersebut. Kita terus baca ayat kitab suci selanjutnya; di Matius 7: 11b, firman Tuhan berkata, “Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.”

Terkadang kita merasa bahwa Tuhan tidak memberikan yang kita mau, yang kita minta, yang kita doakan. Tetapi firman tadi jelas mengatakan bahwa Ia, Tuhan Yesus Kristus, akan memberikan yang terbaik bagi kita umat pilihanNya.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani didalam surga” (Ef1:3).

Amen!

Bookmark and Share
Continue Reading......